Bagaimana Hukum Memotong Kuku dan Rambut ketika Qurban

182 Pembaca

Umat muslim berlomba-lomba dalam kebaikan dan beribadah untuk memohon Ridho dari Allah SWT, terutama ketika menjelang hari Raya Idhul Adha. Karena beberapa keutamaan qurban yang ingin diraihnya. Di antaranya:

  1. Mendekatkan diri kepada Allah
  2. Sebagai sikap kepatuhan dan ketaatan pada Allah
  3. Sebagai saksi amal di hadapan dari Allah
  4. Membedakan dengan orang kafir
  5. Ajaran nabiullah Ibrahim AS
  6. Berdimensi sosial ekonomi

Namun jangan lalai, ada beberapa larangan yang harus diketahui oleh muslim jika ingin berqurban atau mengeluarkan hartanya untuk berqurban di hari Raya Idhul Adha.

Perdebatan tentang hukum potong rambut dan kuku bagi muslim yang berqurban atau mengeluarkan hartanya untuk berqurban masi hangat dibicarakan setiap menjelang hari Raya Idul Adha.

Permasalahan ini berawal, dari perbedaan ulama dalam memahami hadist riwayat Ummu Salamah yang terdokumentasi dalam banyak kitab hadis. Ia pernah mendengar Rasulullah SAW berkata :

إذا دخل العشر من ذي الحجة و أراد أحدكم أن يضحي فلا يمس من شعره و لا بشره شيئا حتي يضحي

Artinya : Apabila sepuluh hari pertama Dzulhijjah telah masuk dan seorang di antara kamu hendak berqurban, maka janganlah menyentuh rambut dan kulit sedikit pun sampai (selesai) berqurban.” (HR. Ibnu Majah, Ahmad dan lain-lain)

Terdapat dua tafsir dan pendapat yang berbeda yang muncul dari hadist tersebut antara beberapa ulama, beberapa mengatakan bahwa larangan tersebut adalah wajib bagi yang berqurban atau yang mengeluarkan hartanya untuk berqurban.

Sedangkan pada pendapat yang kedua menafsirkan bahwa larangan tersebut ditujukan kepada hewan yang dijadikan qurban di hari raya Idul Adha.

Kendati kelompok pertama sepakat akan pemaknaan hadist ini ditujukan untuk orang berqurban, namun dalam kesepakatan tersebut masi ditemukan perbedaan pemahaman hukum antara imam. Lalu, manakah yang benar?

الحاصل أن لبمسألة خلافية, فالمستحب لمن قصد أن يضحي عند مالك و الشافعي أن لا يخلق شعره , و لا يقلم ظفره ختي يضحي, فإن فعل كان مكروها. و قال أبو حنيفة : هو مباح و لا يكره و لا يستحب, و قال أحمد : بتحريمه

Artinya : intinya ini masalah khilafiyah, menurut Imam Makil dan Syafii disunnahkan tidak memotong rambut dan kuku bagi orang yang berqurban, sampai selesai penyembelihan. Bila dia memotong kuku ataupun rambutnya sebelum penyembelihan dihukumi makruh. Sementara Abu Hanifah berpendapat memotong kuku dan rambut itu hanyalah mubah (boleh), tidak makruh jika dipotong, dan tidak sunah pula bila tidak dipotong. Adapun Imam Ahmad mengharamkan.

Kemudian diriwayatkan hadist shohih oleh Muslim

قال رسول الله صلي الله عليه و سلم :من كان له ذبح يذبحه فإذا أهل هلال ذي الحجة فلا يأخذن من شعره و لا من أظفاره شيئا حتي يضحي (رواه مسلم)

Artinya : “Siapa saja yang ingin berqurban dan apabila telah memasuki awal Dzulhijjah (1 Dzulhijjah), maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya sampai ia berqurban.” (HR. Muslim)

Hadist tersebut menguatkan bahwa larangan untuk memotong rambut dan kuku bagi muslim yang berqurban adalah wajib hingga tersembelihnya hewan qurban itu.

Leave a Comment