Menghadapi Anak Yang AKTIF [oleh : Drs. H. Subiyanto]

65 Pembaca

Gobyaaak..! Suara keras itu terdengar dari ruang depan. Sang ibu yang tengah asyik menyiapkan makanan dari dapur bergegas menuju ke suara keras tersebut. Betapa kagetnya sang ibu, laptop kerjanya yang berada di atas meja jatuh berantakan di lantai dengan keadaan baterai sudah terpisah dan didapatinya LCD-nya juga bermasalah.

Diperhatikan dengan saksama, dua jagoan kecilnya yang baru duduk di TK B dan kelompok bermain sibuk membatu memunguti beberapa barang yang juga ikut terjatuh. Dengan mimik tersenyum tanpa bersalah sang anak berucap, “Maaf Bunda, laptopnya jatuh tadi ditarik sama adik waktu aku duduk di depan laptop”.

Melihat kejadian di depan mata itu sang ibu kaget luar biasa. Subhanallah, betapa laptop kerja satu-satunya terjatuh begitu saja, seolah mau marah melampiaskan ke anak-anaknya. Tapi, alhamdulillah sang ibu berpikir ulang bahwa bukankah itu ketelodorannya yang meletakkan laptop sembarangan dan mudah dijangkau sang anak.

Karena kedua jagoannya ini memang sangat aktif. ”Kalau aku marah dan menyakiti anakku, toh tidak akan mengembalikan laptop yang sudah rusak seperti ini,” pikirnya.

Cerita di atas adalah kisah sang ibu yang dikaruniai Allah anak-anak yang aktif. Menurut Dr. Marilyn Heins, MD, dokter anak dan penulis buku Parent Tips dari Amerika Serikat, perilaku aktif anak-anak usia batita yang tak mau diam ini adalah normal. Rentang perhatian anak usia ini pendek. Namun, bila ia menjadi terlalu aktif, bisa jadi itu disebabkan pola asuh orang tua yang berlebihan memberikan perhatian dan stimulasi.

Bersyukurlah bila anak-anak di usia balita memiliki keaftifan gerak. Di antara tanda-tanda anak yang sehat mereka akan bergerak setelah terdiam 5-10 menit untuk aktif melakukan aktivitas gerak dan kelincahan tubuhnya. Anak aktif berbeda dengan hiperaktif karena masing masing memiliki ciri-ciri tersendiri.

Lalu apa yang harus dilakukan orang tua untuk menghadapi anak-anak yang aktif? Dr. Marilyn Heins memberikan kiat kepada para orang tua sebagai berikut.

Pertama, Setiap hari lakukan kegiatan yang seru dan menarik bersama anak-anak dan pikirkan kegiatan kreatif. Jangan-jangan balita tidak mau diam karena anak-anak bosan dengan kegiatan yang itu-itu saja. Ajak anak berlarilari kecil di halaman, bergerak mengiringi lagu, melompat-lompat meniru gerak binatang kesayangan.

Kedua, Izinkan balita membantu pekerjaan rumah tangga. Tidak apa-apa bila ia merebut sapu menyapu lantai atau sibuk mengelap meja bisa membuatnya tenang. Bila tertarik dengan pekerjaan dapur, berhati-hatilah. Bukan seberapa suksesnya anak menyelesaikan pekerjaan itu, tetapi memberikan pembiasaan membantu akan sangat bermanfaat ketika pertumbuhan dan perkembangan mereka semakin besar.

Ketiga, Perhatikan mainan yang dapat membuat anak duduk tenang dan fokus. Apakah ia senang memakaikan baju boneka, menyisir rambut boneka atau bermain lempar bola, mobil-mobilan, membuat jalan atau jembatan dari bantal-bantal tidurnya ataupun yang lainnya sekaligus dapat melatih bertanggung jawab atas mainan yang dimainkan dan mengembalikan ketempatnya semula.

Keempat, Memberikan reinforcement (penguatan positif) melihat balita tampak sangat aktif. Anda bisa mengatakan, “Coba diam sebentar Nak.” Setelah itu mereka juga akan aktif kembali, perhatian yang tulus dan kasih sayang akan sangat membekas di hati anak.

Kelima, Jika anak memang tak mau diam, biarkan saja. Yang penting awasi dia agar tidak menyentuh barang-barang berbahaya, misal barang pecah belah, benda-benda tajam, stop kontak, dan lain-lain.

Keenam, Waktu Main, waktu istirahat. Kenalkan balita kegiatan menyalurkan energi dan waktu untuk beristirahat. Jenuh bermain di dalam rumah, lakukan kegiatan outdoor. Misalnya, bersepeda, main ayunan, perosotan, dan sepak bola. Saat bermain, tetap perhatikan aturan keamanan. Ketujuh, Temukan kegiatan yang anak sukai dan bisa membuatnya lelah. Balita suka memanjat kursi, biarkan ia naik-turun kursi dengan pengawasan Anda dan pastikan kursinya kuat dinaiki anak. Ajak anak berenang, ke playground, atau main bola di lapangan bola sekali seminggu.

Ketujuh, Menyediakan sarana bermain outdoor seperti kolam renang plastik, kotak berisi pasir, mainan yang bisa ditumpuk seperti balok-balok bola dan sebagainya. Kedelapan, juga hal lain, misalnya kolam, parit. Sudah selayaknya kita yang tertib dan waspada, beri pagar untuk kolam. Sering juga membaca berita anak kecil masuk kolam tak tertolong jiwanya. Selain kita yang waspada, anak-anak tetap harus diberi tahu bahwa itu berbahaya.

Lincah, aktif, ceria, dan dinamis adalah salah satu dunia anak sehat. Mereka tak berhenti bergerak dan berceloteh. Hal ini antara lain ditunjang oleh otot-otot tubuhnya yang lentur sehingga balita luwes menekuk sendi seluruh tubuhnya.

Justru yang perlu diwaspadai adalah jika balita tiba-tiba lesu karena mungkin saja dia sedang tidak enak badan namun enggan mengatakannya. Dengan memberikan wadah dan wahana bermain serta pengasuhan yang sesuai dengan tingkat perkembangan usia anak, insyaallah anak-anak kita akan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

Leave a Comment