Enter your keyword

post

Al-Qur’an Bicara Walad (Anak)

Al-Qur’an Bicara Walad (Anak)

Oleh: Drs. KH Ali Muaffa, M.Ag.

Kata walad tertulis di dalam Al-Qur’an 102 kali, 93 kali berbentuk kalimat isim (bermakna kata benda), 56 kali kata walad bermakna anak. Tidak berarti kalimat dan ayat yang lain tidak penting, namun lazimnya kita memahami bahwa penyebutan suatu kalimat dalam jumlah yang banyak memiliki hikmah bahwa sesuatu itu amat penting untuk diperhatikan oleh kita semua atau memiliki nilai lebih strategis.

Namun, terlepas dari itu, Allah berfirman dalam surat Al-Anfal [8] ayat 28, Attaghobun 64: 10, yang maknanya “bahwa sesungguhnya harta dan anak kita bisa menjadi fitnah bagi kita.” Di antara makna fitnah dalam ayat tersebut adalah ujian dan bencana. Sungguh ayat tersebut sangat mengejutkan kita semua. Padahal, hampir pasti kita semua memiliki harta dan anak, bahkan kita berusaha keras memiliki keduanya dalam jumlah yang banyak.

Seorang sopir taksi mengeluh kepada saya, ”Andaikan membunuh tidak berdosa, maka saya akan bunuh anak saya sendiri’.’ Tentu saja saya terkejut setengah mati mendengar pernyataan itu. Namun, setelah saya dalami latar belakangnya, saya menemukan bahwa orang itu mengeluhkan tingkah laku anaknya yang sudah kelewat batas dalam berperilaku yang tidak baik. Semua perbuatan jelek sudah dilakukan, mulai dari berkata kotor, bikin onar, mencuri, narkoba, dan seterusnya, kecuali menghilangkan nyawa (naudzu billah).

”Saya sekarang bertobat dan menyesali perbuatan saya yang dahulu tidak memperhatikan anak saya. Dia saya telantarkan,’’ aku bapak tersebut yang dengan semangat menunjukkan bahwa dia semakin sadar.

Seperti kita maklumi, sekarang banyak kita dapati di negeri ini ada yang masih berusia anak-anak namun sudah terkenal karena perbuatan jahatnya seperti memerkosa, minum miras, menyodomi, hingga membunuh. Banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi, antara lain:

  1. Pengaruh tayangan televisi dan sejenisnya yang menayangkan adegan kekerasan, bahkan adegan pembunuhan. Apalagi kalau sudah anak-anak terbius oleh sinetron (bersambung) yang menceritakan kisah cinta seseorang dan berebut pacar sampai berakhir pada trror dan saling membunuh. Sampai saya tidak percaya bahwa ini adalah negeri saya sendiri. Belum lagi pengaruh dari PlayStation dan games yang hampir pasti menjadi santapan anak-anak setiap hari. Saya pernah melihat games yang mempertontonkan kemarahan seorang aktor dalam suatu adegan kekerasan di mana seumur-umur pekerjaannya membunuh orang dengan membabi buta. Siapa pun yang tidak disukai pasti dia bunuh dengan golok yang menyeramkan dan adegan ini setiap hari dilihat anak-anak dengan bebas sampai mereka lupa makan. ”Setelah melihat film, saya tidak bisa menahan keinginan dan akhirnya terpaksa saya berbuat.” Ini adalah pengakuan seorang siswa SD yang ditayangkan sebuah televisi. Dia melakukan sodomi dan seks karena terpengaruh oleh apa yang ditayangkan di televisi. Sementara adegan penyulut nafsu setan tersebut kini bisa dilihat setiap melalui HP yang melekat di tangannya. Kalimat terpaksa yang diucapkan anak tersebut merupakan pengakuan tulus. Namun, jika penyulut masih terus berlanjut, bukan tidak mungkin kalimat terpaksa itu akan berubah menjadi kebiasaan. Ini baru satu anak yang tertangkap dan diekspose, kita tidak tahu apakah masih ada lagi anak yang lain di negeri kita ini. Kejadian ini setiap hari diulas oleh semua TV bersama pakar pendidikan dan pakar terkait. Reaksi berupa kecaman dan hujatan dari berbagai pihak menampar lembaga penyiaran Indonesia pun terjadi.
  2. Lingkungan. Kisah sopir tersebut di atas memperlihatkan bahwa si anak menjadi korban lingkungan yang mengajarkan dia untuk berbuat yang tidak baik. Maklum, teman-temannya memang perbuatannya tidak baik. Karena setiap hari dia melihat dan mengikuti, akhirnya anak tersebut menjadi bagian dalam perbuatan kotor setiap hari.
  3. Perhatian, bimbingan, dan pendampingan orang tua. ”Jujur saja Pak, saya memang tidak pernah memperhatikan anak saya. Saya justru hidup menjadi gelandangan yang tidak punya tujuan,” aku sopir itu. Di sisi lain, anaknya hidup pada lingkungan jahat, sementara pembimbingan ke arah baik sama sekali tidak ada. Posisi strategis di sini adalah peran orang tua dan pendidikan formal maupun nonformal (nonformal juga dalam arti pembimbingan orang tua).

Melalui Al-Qur’an Allah SWT telah memberikan informasi penting sekaligus sebagai pedoman bagi kita bahwa di antara anak-anak kita ada yang berlabel:

  1. anak yang qurro a’yun (penyejuk pandangan mata),
  2. anak yang zinatul hayatiddunya (penghias hidup di dunia),
  3. anak yang fitnatun lakum (fitnah bagi orang tuanya), dan
  4. anak yang ’aduwwun lakum (musuh bagi orang tua).

Siapa pun pasti takut jika anak-anaknya menjadi fitnah dan musuh dalam kehidupan kita. Maka, keluhan sopir taksi di atas bisa kita pahami. Sebab, orang tua tidak hanya malu setiap saat mendengar berita tentang keburukan perilaku anaknya, tapi juga kasihan akan masa depan anaknya. Terkadang si orang tua juga berpikir bagaimana pertanggunganjawaban di sisi Allah nanti.

Rasulullah SAW memberikan kiat tentang pendidikan terhadap anak ini, yaitu:

  1. Didiklah anak-anakmu dengan dasar atau fondasi pendidikan yang kuat, yaitu mengenal siapa dirinya dan siapa Tuhannya.
  2. Didiklah anak-anakmu dengan membaca Al-Qur’an dan shalat.
  3. Pilihkanlah mereka dalam lingkungan kehidupan yang sehat.
  4. Didik dan siapkan anak-anakmu untuk menyongsong masa depannya (komitmen dan kompetensi) karena mereka akan mengalami dan menjumpai zaman yang berbeda dengan zaman kita hari ini.
  5. Berilah nama yang baik, yang mengandung doa akan kebaikan anak itu nanti.
  6. Ajarilah hikmah dalam kehidupan agar nanti anak ini menjadi orang yang bijaksana.
  7. Bacalah doa untuknya dengan penuh keihlasan dan istiqamah baik setiap ba’da sholat maupun disaat-saat maupun tempat yang mustajabah.
  8. Ajarkan kepadanya untuk juga selalu mendoakan kepada kita sebagai orangtuanya.

Kondisi ini pula yang membuat Nurul Falah semakin kencang dalam mempersiapkan sistem pendidikan Al-Qur’an metode tilawati. Hal ini bertujuan dalam rangka membangun karakter bangsa yang menghadirkan rahmat Allah SWT bagi bangsa dan negara kita. Terima kasih atas dukungan donatur, semoga menjadi amal jariyah di sisi Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.