Anak Sering Mengalah (Parenting oleh Drs. H. Subiyanto)

124 Pembaca

Seorang ibu bercerita tentang perkembangan anak bungsunya. ”Saya sering menasihati anak saya untuk mengalah dengan teman-temannya ketika di sekolah atau bermain di rumah. Tapi, akhir-akhir ini saya sering kasihan melihat sendiri,” ujarnya.

”Subhanallah, kenapa ya anak saya selalu mengalah? Waktu antre main ayunan kemarin, dia selalu saja mendahulukan teman-temannya. Akibatnya, ya dia enggak kebagian main. Heran, kok dia enggak berani minta gilirannya. Begitu juga ketika menghadapi seorang anak yang mudah jail, suka memukul, terkadang malah lebih takut untuk mendekat apalagi membalas ketika disakiti,” tuturnya.

Keluhan serupa diutarakan ibu muda yang lain. ”Sama Bu. Kalau mainannya diminta, anak saya langsung memberikan. Bahkan, kalau temannya memukul, dia diam saja. Tidak membalas,” terangnya.

Dia menambahkan, ”Suatu waktu ketika di rumah pernah saya nasihati, ’Balas aja Nak kalau temammu memukul.’ Tetapi, anaknya menjawah enteng, ’Lho Mama kan pernah bilang sabar itu kekasih Allah.’ Seketika itu makjleb saya tidak berucap lagi”.

Keluhan di atas sering kami dengar dari para ibu yang mengikuti acara parenting di beberapa sekolah. Bagaimana dengan anak kami yang sering mengalah, apa tindakan yang perlu kami lakukan untuk memulihkan kepercayaan diri anak karena kami tidak tega? Padahal, kebanyakan orang akan menilai si pengalah sebagai anak yang baik dan penurut. Memang ada sisi positif dari anak yang sering mengalah. Umpamanya, ia memang seorang yang suka menolong dan memperhatikan kebutuhan orang lain.

Sikap mengalah juga menandakan anak sudah belajar mengontrol emosinya. Anak yang bisa menahan diri untuk tidak berkonflik dengan temannya berarti memiliki kematangan emosi. Selanjutnya kemampuan berpikirnya akan matang pula. Sayangnya, anak dengan sikap yang selalu mengalah ini mudah sekali dimanfaatkan orang lain.

Sebenarnya anak usia prasekolah sedang belajar mengembangkan kemampuan beradaptasi dan bersosialisasi dengan lingkungannya. Hal yang wajar jika anak merasa malu atau ragu-ragu menjalin pertemanan di lingkungan baru, misalnya saat pertama masuk, kelompok bermain atau taman kanak-kanak yang terkadang masih menangis ketika orang tua meninggalkan mereka.

Namun, kalau ternyata si kecil keterusan mengalah, tentu ada faktor lain yang menyebabkannya bersikap seperti itu. Umumnya, anak usia ini masih tergolong egois. Kalau ia selalu mengalah, tentu ada sesuatu yang terjadi pada dirinya.

Beragam sebab yang memunculkan anak-anak menjadi pengalah. Berikut ini penyebabnya.

Pertama, kurang bersosialisasi. Anak menjadi sosok pengalah karena kurang mendapat pengalaman bersosialisasi, kurang banyak bergaul di lingkungan luar rumah, tak memiliki teman sepermainan atau teman sebaya. Sehari-hari dia hanya bergaul dengan orangorang di rumah. Jadi, ketika dia dihadapkan harus bertemu dengan banyak orang, si anak menjadi canggung karena tak terbiasa. Akhirnya, ia memilih lebih banyak mengalah karena membutuhkan lebih banyak waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya. Maka latihlah anak sejak dini banyak bertemu atau bersosialisasi dengan orang selain keluarganya. Semakin sering melakukan sosialisasi, maka anak akan keluar dari zona ketakutan bertemu dengan orang yang baru dikenal.

Kedua, takut tidak punya teman. Ada juga anak yang memilih bersikap mengalah karena takut dijauhi, dimusuhi, atau tak dijadikan teman lagi. Anggapannya, dengan mendahulukan kebutuhan teman, maka pertemanannya akan terus terjalin. Ujung-ujungnya, si anak malah tak memiliki kesempatan bereksplorasi yang sama seperti yang dilakukan temantemannya.

Ketiga, pola asuh otoriter. Sikap selalu mengalah juga bisa terjadi pada anak karena pola asuh orang tua yang kurang tepat. Umpamanya, orang tua cenderung selalu keras atau otoriter, selalu melarang dan memarahi jika anak berbuat salah dan tak memberikan kesempatan yang luas pada anak untuk bereskplorasi. Alhasil, anak bisa tumbuh menjadi sosok yang penuh dengan ketakutan dan ragu-ragu untuk memulai sesuatu. Anak juga bisa lebih memilih mengalah ketika temannya berbuat jahat seperti memukul atau menendang. Dia tak mau melawan atau membalas perilaku buruk temannya tersebut.

Dampak negatifnya dalam pergaulan seharihari, anak pengalah ada kecenderungan mudah dimanfaatkan oleh teman-temannya terutama untuk hal yang negatif. Selain itu, kurang kreatif dan mengeksplorasi diri karena sering menjadi penonton dan mendahulukan yang lain sehingga tingkat inisiatifnya kurang berkembang. Dari sisi kepercayaan diri, mereka kurang pede. Mereka lebih memilih menyendiri, menghindari pergaulan, dan akhirnya menjadi sosok yang minder.

Upaya yang perlu dilakukan adalah orang tua harus banyak instrospeksi diri dalam hal pengasuhan dan bersinergi bersama guru di sekolah untuk menumbuhkan kepercayaan diri anak, dalam bersikap, berprilaku, dan bersosialisasi. Sering memadukan komunikasi yang positif dan membangun kebersamaan dengan berbagai pihak tersebut akan sangat membantu mencairkan kebekuan anak dalam merespon perilaku serta tindakan yang negatif terhadap dirinya.

Leave a Comment