Enter your keyword

post

Awas, Kebiasaan Phubbing!

Awas, Kebiasaan Phubbing!

Oleh: Drs. H. Subiyanto

Apakah Anda tahu phub atau phubbing? Mungkin ada yang asing dengan kata pendek di atas, bisa jadi mungkin kita ada yang belum tahu.

Phubbing merupakan kosa kata baru, kependekan dari phone snubbing, yang berarti tindakan acuh seseorang dalam sebuah lingkungan karena lebih fokus pada gawai ketimbang berinteraksi atau melakukan percakapan sehingga menjadikan rasa tidak nyaman pada orang di sekitar pelaku.

Salah satu contohnya: seorang anak sedang asyik dengan smartphone-nya dan ketika dipanggil mamanya berkali-kali tidak segera menyahut dan beranjak dari tempat duduknya. Si anak malah mereka cuek seolah tidak mendengar panggilan itu. Atau ketika sedang berkumpul sama teman-teman, yang lain asyik ngobrol, salah satu teman fokus pada gawainya, seperti hidup di dunianya sendiri.

Apakah kita termasuk orang yang sering melakukan phubbing? Coba cek!

Tanda utama orang yang sering phubbing adalah tidak bisa lepas dari ponselnya. Khawatir akan melewatkan panggilan telepon, kicauan Facebook, Twitter, atau update IG status seseorang, juga selalu memantau ponsel ketika makan bersama atau dalam kondisi sosial yang lain.

Lebih parah lagi kalau kamu mengobrol secara langsung dengan seseorang dan pada saat yang sama melirik Instagram atau membalas pesan orang lain dengan ponsel.

Yuk belajar kurangi phubbing. Fokus pada siapa yang berinteraksi langsung dengan kita dulu. Yang virtual, apalagi media sosial, bisa ditunda.

Saat ini, bukan hal aneh saat kita membawa telepon pintar ke mana pun pergi, termasuk saat mengobrol dengan teman dan keluarga di meja makan. Tak jarang kita melihat pemandangan saat semua orang justru asyik dengan telepon genggam (smartphone) masing-masing ketimbang mengobrol bersama atau menjalin hubungan komunikasi positif. Kondisi demikian sering disebut dengan phone snubbing atau disingkat phubbing.

Fenomena ini mungkin tampak biasa dan relatif tidak berbahaya, tetapi tetap saja mengkhawatirkan dan menjengkelkan. Namun, sebuah penelitian menemukan bahwa phubbing sangat mungkin merusak hubungan sosial.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa phubbing membuat interaksi tatap muka menjadi berkurang maknanya. Sebuah makalah yang diterbitkan dalam Journal of Applied Social Psychology menjelaskan, orang-orang yang membayangkan sedang diacuhkan ketika melihat simulasi percakapan merasa lebih negatif tentang interaksi tersebut.

Efek buruk phubbing tak hanya berdampak bagi pelaku, tapi juga orang-orang di sekitarnya. “Kebanyakan korban dari phubbing malah akan bereaksi dengan menggunakan handphone miliknya sendiri. Rasa ‘terluka’ akibat diacuhkan akan mendorong korban phubbing untuk menggunakan handphone miliknya untuk mengakses sosial media agar mereka merasa lebih ikut serta dalam interaksi walaupun di dunia maya.”

Efek tersebut sangat mengkhawatirkan, terutama apabila pelaku phubbing adalah anak-anak kita yang masih berada di usia dini dan remaja. “Alasannya, otak dan kemampuan sosial anak usia dini dan remaja masih dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan yang banyak membutuhkan stimulus yang positif untuk mengasah terhadap kepekaan lingkungan sekitarnya.

Mengapa perasaan negatif itu muncul? Phubbing ternyata adalah ancaman bagi empat kebutuhan mendasar manusia. Kebutuhan dasar itu adalah kepemilikan, harga diri, keberadaan yang bermakna, dan kontrol.

Ketika seseorang mengacuhkan, kita sangat mungkin dapat merasa ditolak, dikucilkan, dan tidak penting. Perasaan-perasaan ini–apalagi bila terjadi berulang-ulang–tentu dapat berdampak signifikan pada kesehatan mental seseorang.
Hentikan phubbing!

Untuk mencegah merenggangnya hubungan sosial dan terjadinya gangguan mental akibat perilaku phubbing, berhentilah terlalu sering mengecek e-mail atau media sosial. Beberapa cara di bawah ini dapat membantu:

  1. Jadikan waktu makan dan bertemu keluarga sebagai zona bebas HP.
    Saat waktunya makan–di mana pun kita berada, terlebih bila kita sedang bercengkerama dengan keluarga–jangan pernah sentuh telepon. Jika bunyi-bunyian notifikasi sangat mengganggu, alihkan ponsel ke mode “jangan ganggu“.

Selanjutnya, terlibatlah dengan orang-orang di depan kita dan mengobrollah seperti biasa. Awalnya mungkin terasa dipaksakan, tetapi segera akan merasa lebih nyaman, dan hangat dengan melakukan percakapan tatap muka.

  1. Tinggalkan telepon
    Mungkin merasa seperti kehilangan anggota tubuh saat tidak bersama telepon pintar kita. Tetapi, jangan takut untuk meninggalkan ponsel di mobil, laci meja, atau tas. Apa pun peringatan atau pembaruan yang terjadi, mereka akan menunggu nanti.
  2. Tantang diri Anda

Mengabaikan telepon bisa menjadi sebuah tantangan bagi kita. Beri target pada diri sendiri untuk hidup tanpa telepon. Ketika kita telah menyelesaikan pekerjaan dan target urusan yang lebih penting, boleh manjakan diri bersama ponsel.

Berhenti phubbing saat bersama orang lain adalah hal baik untuk membangun hubungan komunikasi sosial dengan orang-orang di sekitar kita. Tak hanya itu, berhenti phubbing juga akan membantu menjaga kesehatan mental lawan bicara karena tidak akan merasa diabaikan. Jadi hentikan kebiasaan phubbing, dan ciptakanlah obrolan yang hangat dan cair dengan orang-orang terdekat atau teman-teman di sekitar kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published.