Enter your keyword

post

Belajar Sabar Yuk, Nak!

Belajar Sabar Yuk, Nak!

Oleh: Ustaz Subiyanto

Pernahkah anak kita merengek tidak sabaran ketika kita pesan makanan di resto yang harus menunggu lama? Pada saat seperti itu, makanan pesanan kita belum tersaji di meja atau di depan kasir yang antre panjang karena kita sedang berbelanja. Tidak hanya orang dewasa yang tidak bisa sabar menunggu atau sekadar mengantre di kasir supermarket atau swalayan atau resto. Anak-anak juga sering tidak sabaran.

Misalnya, anak minta diambilkan sesuatu saat di rumah, padahal orang tua sedang sibuk di dapur mencuci piring, atau saat menunggu waktu berbuka puasa. Tak jarang, karena tidak sabaran, anak sering marah dan menangis. Bahkan, ketika menjelang berbuka, anak-anak sudah duduk manis di depan hindangan santap buka puasa meski azan magrib belum berkumandang. Mereka merengek, ”Kok lama sih ya.”

Duh, kalau sudah begini, jadi pusing sendiri ya, Ayah Bunda. Bisa tidak ya mengajarkan anak-anak untuk bersabar dan mau menunggu?

Cara terbaik untuk mengajarkan kesabaran adalah mempraktikkannya. Semakin sering anak dilatih untuk bersabar, anak semakin pandai bersabar. Berikut beberapa langkah yang bisa dicoba.

Pertama, Pahami Pemicu Anak Tidak Sabar
Sebelum melatih anak untuk sabar, orang tua perlu tahu apa sih pemicu anak tidak sabar? Tiap anak memiliki karakter yang berbeda-beda. Ada anak yang memang temperamental, ada juga anak yang cenderung lebih sabar.

Nah, cara memahami anak adalah mengobservasi melalui aktivitas sehari-hari. Misalnyam saat main puzzle, apakah anak terlihat mudah frustrasi? Apa yang memicu buat anak frustrasi? Mungkin anak tidak tahu cara memainkan puzzle? Jika memang begitu, bantu anak menemukan potongan puzzle tertentu, misalnya mulai dari bagian sudut atau bantulah anak menemukan warna yang sesuai.

Tak hanya bermain puzzle, mungkin hal lain seperti proses bergantian saat bermain (taking turn) juga bisa memicu anak untuk tidak sabaran. Beberapa anak tidak sabaran saat memulai keterampilan baru, misalnya menggambar lingkaran atau pola tertentu ketika mendapat tugas sekolah. Maka, penting untuk memahami apa saja pemicu anak menjadi tidak sabaran. Barulah setelah itu, orang tua bisa mulai melatih anak untuk belajar sabar.

Kedua, Jadi Role Model
Sabar bukan hanya soal menunggu giliran atau menunggu hal yang kita inginkan. Sabar lebih pada kemampuan untuk menunggu dengan tenang (tidak teriak-teriak, tidak menghitung waktu, tidak memutar bola mata, dan lain-lain). Karena itu, jadilah role model atau contoh yang baik bagi anak untuk berlatih bersabar.

Orang tua bisa menggunakan permainan agar anak tetap punya sesuatu yang dilakukan selagi menunggu. Misalnya, saat menunggu antrean dokter, orang tua bisa mengajak anak bermain tebak-tebakan atau permainan ringan. Dengan begitu, anak tetap memiliki aktivitas karena esensi usia anak yang normal dan sehat mereka tidak akan pernah diam dan mereka akan bergerak setelah sekian menit. Permainan atau menceritakan lelucon juga bisa digunakan jika rencana anak tidak berjalan dengan lancar. Sehingga anak terhindar dari stres dan tantrum. Atau ketika sedang menunggu berpuka puasa ajaklah anak untuk mendengar kisah-kisah pendek para rasul, mengaji, menghafal surat pendek atau doa harian sehingga tetap memiliki waktu yang produktif sesuai tahapan dan usia mereka.

Ketiga, Lakukan dengan Tenang
Kadang anak-anak hanya butuh didengar dan sedikit bantuan untuk menyalurkan rasa frustrasi yang mereka rasakan. Karena itu, bantulah anak untuk keluar dari kejenuhan dan rasa frustrasi yang sedang dihadapi dengan cara yang tenang. Saat anak mulai terlihat gelisah dan tantrum, buatlah kontak mata dengan anak, berikan sentuhan atau genggam dengan lembut tangan anak. Jaga suara orang tua setenang mungkin dan mintalah anak untuk bersabar dan sedikit menunggu.

Keempat, Pengaturan Waktu yang Tepat
Berapa kali Anda mengatakan pada anak untuk menunggu? Dua menit, lima menit, atau bahkan sepuluh menit, saat mereka meminta sesuatu padahal Anda sedang sibuk. Ternyata, waktu 2 menit atau 5 menit tidak berarti apa-apa bagi anak-anak. Banyak anak yang belum memahami konsep waktu tersebut.

Alih-alih mengatakan 2 menit, ganti dengan “Mama atur alarm 2 menit ya Dek. Mama perlu beres-beres meja makan. Kalau alarm ini sudah bunyi ‘Kringg’, Mama akan menemani Adek main.” Setelah itu, beberapa anak mungkin sudah lupa dengan keinginannya atau mereka sudah menyelesaikan masalah mereka sendiri tanpa minta bantuan orang lain.

Pengaturan waktu seperti ini lebih efektif daripada hanya mengatakan 2 menit atau 5 menit. Anak perlu gambaran yang nyata. Orang tua juga bisa menggunakan mainan jam pasir sebagai patokan waktu bagi anak.

Kelima, Latih Bersabar Melalui Aktivitas Tertentu
Ciptakan suatu aktivitas bersama anak yang melatih kesabarannya. Misalnya, bercocok tanam, menempel mozaik dengan kertas atau biji-bijian untuk mengelompokkan warna atau bentuk, bahkan membuat mainan dari tanah liat. Melalui permainan yang membutuhkan waktu dan kesabaran ini, anak secara tidak langsung berlatih sabar dengan cara yang lebih seru. Secara tidak langsung, kita melatih anak memiliki konsentrasi yang tinggi terhadap berbagai aktivitas. Melatih kesabaran pada anak memang butuh proses ya, Mama-Papa. Sebaiknya latihan kesabaran ini dilakukan secara terus-menerus agar hasilnya maksimal. Anak perlu berlatih kesabaran agar saat dewasa kelak anak mampu menyelesaikan masalah dengan kepala dingin dan tidak berdasarkan emosi sesaat.

Keenam, Anak Sabar Disayang Allah
Tanamkan kepada Ananda bahwa orang yang sabar itu disayangi Allah, “Sesungguhnya Allah itu bersama orang-orang yang sabar’’. Penguatan akidah dan akhlak terhadap anak tentang kesabaran sangat dibutuhkan. Mengingat itu salah satu tahapan melatih keyakinan bahwa sesuatu itu tidak diperoleh dengan mudah tapi ada jeda waktu atau melatih hati untuk ikhlas. Anak yang terbiasa dengan sabar kelak akan sukses meraih mimpinya. Ketika sesuatu itu sudah diperoleh dari jerih payah waktu, tenaga, atau uang, maka ucapkan alhamdulillah sebagai tanda ungkapan bersyukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan kepada kita. Semoga kita tetap bersabar menghadapi anak-anak kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published.