Enter your keyword

post

BENARKAH “YA SAYYIDI YA RASULALLAH” SHALAWAT TAK BERDASAR?

BENARKAH “YA SAYYIDI YA RASULALLAH” SHALAWAT TAK BERDASAR?

Oleh: Prof. Dr. H. Moh. Ali Aziz, M.Ag.

Tanya:
Di masjid kampung saya, sering diputar shalawat “Ya sayyidi, ya rasulallah.” Saya tak tahu artinya. Ketika saya tanyakan ke ustaz, ia menjawab, “Itu shalawat tak berdasar. Lebih baik shalawat yang dibaca dalam shalat itu saja.” Terima kasih atas penjelasannya.

Subagio – Paciran, Lamongan

Jawab:
Saya mengucapkan terima kasih atas pertanyaan Bapak Subagio yang amat menarik. Jawaban ustaz bahwa shalawat “ya sayyidi ya rasulallah” tak berdasar hadis tidak sepenuhnya benar dan juga tidak sepenuhnya salah. Memang Nabi SAW tidak mengajarkan teks shalawat itu. Tapi, isi shalawat itu sejalan dengan perintah Nabi SAW untuk mengagungkan Allah dan rasul-Nya. Isinya juga sama sekali tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip keimanan. Inilah teks lengkap shalawat yang Bapak maksudkan:

يَا سَيِّدِيْ يَا رَسُوْلَ اللهْ – يَا مَنْ لَهُ الْجَاهْ عِنْدَ اللهْ
إنّ الْمُسِيْئِيْنَ قَدْ جَاءُوكْ – بِالذَّنْبِ يَسْتَغْفِرُونَ اللهْ

Ya Sayyidi, ya Rasulallah, Ya man lahul jah ‘indallah. Innal musi-ina qad ja-uk, Bidz dzanbi yastaghfirunallah. (Wahai pembimbingku, wahai utusan Allah. Wahai Nabi yang amat terhormat di sisi Allah. Orang-orang yang berdosa datang kepadamu, untuk mendapat ampunan Allah).

Benar juga jawaban ustaz bahwa tidak ada yang bisa menandingi shalawat yang diajarkan Nabi dalam shalat, lebih-lebih shalawat Ibrahimi yang kita baca pada tasayhud terakhir. Tapi, sama sekali tak ada salahnya membaca shalawat-shalawat lainnya selama tidak bertentangan dengan akidah.

Perlu juga Bapak Subagio ketahui bahwa shalawat “ya sayyidi ya rasulallah” amat sejalan dengan firman Allah,

وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ وَلَوۡ أَنَّهُمۡ إِذ ظَّلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ جَآءُوكَ فَٱسۡتَغۡفَرُواْ ٱللَّهَ وَٱسۡتَغۡفَرَ لَهُمُ ٱلرَّسُولُ لَوَجَدُواْ ٱللَّهَ تَوَّابٗا رَّحِيمٗا

“Dan Kami tidak mengutus seorang pun rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sungguh jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” (QS An Nisa’ [4]: 64).

Inilah shalawat yang amat saya sukai sejak mengetahui isinya serta kaitannya dengan ayat Al-Qur’an. Juga sering saya baca setelah saya menjumpai berkali-kali orang membacanya ketika berada di depan makam Nabi di Madinah. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published.