Enter your keyword

post

Bertobat dengan Sungguh-Sungguh

Bertobat dengan Sungguh-Sungguh

Oleh: Drs. KH Ali Muaffa, M.Ag.

Berbicara tobat adalah berbicara kehilafan, kesalahan, atau dosa. Dosa merupakan komponen pokok yang menyebabkan manusia mendapat siksa di akhirat nanti. Sedemikian penting memperhatikan dosa hingga Allah SWT dan Rasulullah SAW membimbing hamba dan umatnya agar selalu berbuat baik dan tidak memiliki dosa, melakukan tobat dan mohon ampun kepada Allah, di antara bimbingan Allah SWT dan Rasulullah SAW tersebut:

  1. Firman Allah SWT: ”Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat nashuhaa (tobat yang semurni-murninya)….” (QS At-Tahrim 66 ayat 8).
  2. Hadis Nabi: ”Dari Syayidah ‘Aisyah ra, ia berkata: saya bertanya kepada Rasulullah SAW, Apa pendapat Engkau seandainya aku menemukan lailatul qadar, maka doa apakah yang semestinya aku ucapkan pada malam itu? Rasullullah SAW menjawab: berdoalah dengan mengucapkan: ”Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau Dzat Maha Pengampun dan menyukai memberikan pengampunan kepada hamba-Nya, maka ampunilah kesalahanku” (HR lima imam hadis, kecuali Imam Abu Daud).
  3. Hadis Nabi: Dari Abi Hurairah ra beliau berkata: ”Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda Demi Allah, sesungguhnya aku pasti memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali” (HR Imam Bukhari).

Secara syar’i, tobat adalah meninggalkan dosa karena takut pada Allah, menganggapnya buruk, menyesali perbuatan maksiatnya, bertekad kuat untuk tidak mengulanginya, dan memperbaiki apa yang mungkin bisa diperbaiki kembali dari amalnya. Hakikat tobat adalah perasaan hati yang menyesali perbuatan maksiat yang sudah terjadi, lalu mengarahkan hati kepada Allah SWT pada sisa usianya serta menahan diri dari dosa.

Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam An-Nawawi menerangkan bahwa apabila maksiat yang dilakukan seseorang berkaitan dengan hak Allah, tidak ada sangkut-pautnya dengan hak orang lain, tobat yang dilakukan harus memenuhi tiga syarat:

  1. Pertama, menghentikan perbuatan maksiat tersebut.
  2. Kedua, menyesali tindakan maksiat.
  3. Ketiga, bertekad tidak akan mengulangi perbuatan itu selamanya.

“Seandainya salah satu dari tiga syarat ini tidak terpenuhi maka, tobatnya tidak sah,” katanya. Selanjutnya, apabila tindakan maksiat ini berkaitan dengan seseorang, tobatnya harus memenuhi empat syarat yaitu tiga di atas dan:

  1. Meminta kebebasan dari pihak terkait.

Apabila dosa yang dilakukan terkait dengan hak harta benda atau semisalnya, maka pelaku dosa diwajibkan mengembalikan hak tersebut. Dan jika harta benda tersebut habis, dia memohon kehalalan kepada pemiliknya.

Apabila dosa yang dilakukan terkait dengan selain harta benda misalnya menuduh orang lain berbuat mesum dan semisalnya, maka pelaku dosa penuduhan itu diwajibkan memohon maaf kepada yang bersangkutan.

Imam An-Nawawi mengatakan, “Pelaku maksiat harus bertobat dari seluruh dosa yang dilakukannya”. Jika dia bertobat dari sebagian dosa, tobatnya sah menurut pendapat yang benar, namun masih menyisakan dosa yang lain.

Cara melengkapi keseriusan upaya tobat di atas bisa diimbangi dengan doa sebagaimana dilakukan Nabi Adam as sebagaimana tertera di dalam surah Al-A’raf 7 ayat 23 yang artinya “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”.

Dalam tafsirnya mengenai surah Al-A’raf ayat 23 ini, Syaikh Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa ”Allah mengampuni Nabi Adam dan Ibu Hawa setelah kedua-duanya mengakui dosa-dosanya”. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published.