Enter your keyword

post

Daun Jatuh

Daun Jatuh

Semua di antara kita tak ubahnya seperti selembar daun yang menempel atu menggantung pada sebatang  ranting yang menjulur, menjuntai ke arah mana pun.

Tidak selembar pun daun mampu memilih dari ranting mana dirinya akan tumbuh, tidak juga tahu kapan akan jatuh atau mengering kemudian lepas dari tangkainya. Dan ketika lepas dan jatuh tak mampu pula menguasai dirinya untuk memilih tempat jatuhnya, hanya angin yang akan membawanya terbang kemudian menghempaskannya di tanah. Tanah tandus, tanah berbatu, tanah gambut yang becek, atau tanah subur penuh rerumputan juga tidak bisa memilih. Semuanya tinggal menerima saja.

Pohon dan ranting adalah tempat bergantung memperoleh kehidupan, berpegangan berlindung dari injakan dan jepitan makhluk lain yang hidup di sekitarnya. Pohon dan ranting membagi makanan ke seluruh daun. Setiap lembar daun tidak terlewatkan memperoleh kiriman, tidak peduli dekat dengan pokok pangkalnya atau jauh di ujung pucuk ranting pohon, semuanya mendapat bagian sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Ketika selembar daun telah mengering, pertanda tugasnya telah selesai. Haknya atas pohon dan ranting telah habis. Ia harus lepas dan kembali turun ke bumi, menyatu dengan tanah, lebur menjadi entitas baru bersama tanah.

Sang daun bersama tanah memperoleh tugas baru yang sangat mulya, yaitu menyuburkan tanah untuk dapat memberi nutrisi bagi pohon yang telah memberinya kehidupan atau menumbuhkan pohon baru ketika ia dijatuhkan angin di tempat jauh dari pohonnya. Di tanah baru, ia menumbuhkan pohon-pohon baru, pohon baru yang tidak selalu sama seperti dirinya. Meski jatuh di mana pun, dirinya adalah kebaikan bagi lingkungan sekitarnya. Kematiannya bukan kehancuran sia-sia, tetapi berarti hidupnya tumbuhan lain atau mengokohkan pohon yang telah tumbuh lama. Sebuah tadabbur yang luar biasa atas diciptaknnya selembar daun.

Firman Allah yang tertulis dalam Al-Qur’an surat Al-An’aam ayat 59 menyatakan bahwa tidak satu pun yang ada terjadi di dunia ini kecuali dalam genggaman kekuasaan Allah dan tidak luput dari ilmunya Allah, termasuk tidak selembar daun yang jatuh dari pohonnya tanpa sepengetahun Allah.

Maka, yakinlah kita dengan seyakin-yakinnya bahwa tidak ada satu pun kejadian di alam raya ini yang sia-sia. Semua bernilai sangat mahal dan memberi makna yang sangat tinggi bagi kehidupan dan manusia beriman yang selalu berpikir.

Terkadang ada di antara kita yang “nelangsa” penuh keluh kesah dan menyalahkan orang lain ketika jatuh terpuruk. Usaha sedang rugi bahkan bangkrut, terkena PHK, ditimpa berbagai kesulitan dan kesedihan. Merasakan jatuh terpuruk dalam lavel yang paling rendah, seolah hidup tidak lagi ada harapan dan merasa layak berputus asa, maka peganglah daun lalu perhatikanlah nasihat Allah yang telah disampaikan pada kita.

Atau di antara kita adalah seorang kader dakwah, maka belajarlah pada daun kering yang jatuh berserakan di mana saja. Allah telah mengajari kita di mana pun dirinya berada, akan menumbuhkan kader dakwah baru atau setidaknya menggemburkan tanah dan menyuburkannya, yang dengan itu memungkinkan menjadi penguat dan penopang kokohnya jamaah untuk melangembangkan dakwah.  Sebuah refleksi dari menonton sebuah film lama yang mengisahkan perjuangan Samurai Buta membela rakyat jelata yang tertindas. Di pangkal katana miliknya tertulis pesan gurunya “Daun yang jatuh tidak menyalahkan tiupan angin”. Wallahu a’lam bisshowab.

Leave a Reply

Your email address will not be published.