Enter your keyword

post

Di Balik Kesusahan Selalu Ada Kemudahan

Di Balik Kesusahan Selalu Ada Kemudahan

Oleh: Drs. KH Ali Muaffa, M.Ag. Ini secuil kisah seorang pilot yang sudah menekuni profesinya 13 tahun yang di kemudian hari banting setir menjadi pedagang mi ayam di Tangerang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Pergantian profesi ini bukan karena bosan menjadi pilot, melainkan karena dampak masa pandemi.

Tentu dia juga tidak tiba-tiba menjadi penjual mi ayam. Yang pasti, keputusan ini melalui beberapa pertimbangan sehingga pilihan ahirnya jatuh pada menjadi pedagang mi ayam. Terhitung sejak Juli-Agustus 2020 menekuni profesi baru ini diakui bahwa hasilya dapat membantu  kebutuhan keluarga.

Sebagaimana ajaran Allah SWT, beliau menghadapi pandemi Covid-19 ini dengan kaca mata dan sisi hikmahnya. Dengan demikian, kondisi keterpurukan berubah menjadi kelapangan rezeki dan bisa kita baca bahwa ahirnya di hati sang pilot ini memancarkan semangat kalimat sejuk ”bahwa di balik kesulitan hidup pada masa ini pasti ada hikmah yang belum tergali oleh semua hamba Allah”. Kisah semakna pilot ini terjadi dalam jumlah yang tidak terhitung banyaknya.

Wahyu pertama (surah Al-Alaq ayat 1-5) yang diturunkan kepada Baginda Nabi SAW sangat jelas bahwa manusia diminta membaca ayat-ayat Allah, baik ayat Qauliyah (yang tertulis di dalam kitab suci Al-Qur’an) maupun Ayat Kauniyah (berupa alam semesta dan kejadian yang ada sepanjang masa).

Seperti telah dipahami, di balik setiap perintah Allah setiap perintah Allah, pasti terdapat hikmah yang luar biasa yang dapat diambil. Maka, jika perintah membaca pada wahyu pertama tersebut harus dilandasi dengan asma Allah, maknanya pasti luar biasa. Yaitu, jika manusia melandasi membaca dengan benar, maka minimal yang akan terjadi adalah bertambahnya iman seseorang. Sebaliknya, jika membaca tidak dilandasi dengan asma Allah atau semangat beribadah misalnya, maka yang akan terjadi adalah keburukan-keburukan, bahkan kekafiran.

Fakta ini bisa dilihat misalnya dalam kisah Fir’aun dan kisah Nabi Ayyub. Kedua hamba Allah ini di dalam membaca ayat-NYA (berupa peristiwa hidup) sangat berbeda. Fir’aun membaca keberadaan duniawi yang ada pada dirinya dengan kacamata “prestise dunia”, maka hasil membacanya melahirkan kesombongan yang luar biasa. Sementara Nabi Ayyub sebaliknya. Beliau membaca ayat kauniyah berupa ujian hidup yang beliau alami, baik berupa sakit berat maupun yang lainnya dengan kacamata takdir dan kemauan Allah yang Maha Kuasa, maka hasilnya Nabi Ayyub membaca ayat kauniyah adalah dirinya semakin mencintai Allah dan selalu merasa bahagia meskipun kondisinya menghadapi tantangan berat. Beliau meyakini bahwa Allah  Maha bijaksana dan Maha mengerti. Bahkan, beliau meyakini bahwa setiap problem dan kesulitan sesungguhnya adalah  suatu ujian dan harus dihadapi dengan tabah. Keyakinan yang dimiliki dan dialami oleh Nabi Ayyub dan yang lainnya  ini sudah banyak diterangkan di dalam Al-Qur’an.

Dijelaskan oleh Quraish Shihab dalam tafsirnya bahwa di setiap kesulitan yang dialami manusia sesungguhnya Allah SWT telah menyiapkan jalan keluar. Hanya, terkadang kita yang manja. Bisa dilihat misalnya inspirasi dari surah Al-Insyirah ayat 5-6 yang terdapat pengulangan bunyi kalimat dalam ayat ke-5 pada ayat ke-6. Quraish Shihab menjelaskan dari sisi kaidah tafsir bahwa pengulangan ayat tersebut memiliki arti “bersama satu kesulitan ada dua kemudahan. Kita harus mencari kemudahan ini dicelah kesulitan, pasti ada”.

Inilah yang dilakukan Nabi Ayyub disaat membaca ayat (kauniyah) Allah dilandasi dengan asma Allah. Hal itu dapat melahirkan sesuatu yang luar biasa, di antaranya semakin dekat dengan Allah Yang Maha Pengasih. Tetapi, tidak demikian yang dilakukan oleh Fir’aun. Karena di dalam membaca tidak dilandasi asma Allah, hasilnya adalah dia semakin jauh dari Allah, bahkan Fir’aun semakin kafir serta mengklaim dirinya sebagai tuhan.

Gus Mus (KH Mustofa Bisri) menjelaskan bahwa redaksi yang disebutkan dalam Al-Qur’an, khususnya dalam surah Al-Insyirah ayat 5-6 tersebut bukanlah ba’dal usri yusraa (setelah kesulitan ada kemudahan), melainkan menggunakan redaksi ma’al usri yusraa (ada kemudahan yang bersamaan dengan kesulitan). Karena itulah, Gus Mus yakin bahwa masa-masa sulit termasuk masa pandemi sekarang ini pasti akan berakhir tergantung dengan usaha yang kita lakukan. Nurul Falah kembali mengajak, marilah selalu berusaha membaca ayat-ayat Allah baik yang terdapat dalam kitab suci Al-Qur’an maupun ayat kauniyah sehingga semakin hari kita semakin dekat dengan Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.