Enter your keyword

post

Hikmah Surah At-Takatsur

Hikmah Surah At-Takatsur

Oleh: Drs. Ali Muaffa, M.Ag.

Yang dikejar manusia di dunia ini umumnya ada dua, yaitu sukses dunia atau sukses akhirat. Allah dan Rasulullah SAW menuntun manusia sukses kedua-duanya: dunia akhirat. Sehingga Nabi memberikan konsep soal ini, antara lain beliau mengatakan yang maknanya sebagai berikut:

  1. Jika ingin sukses dunia, maka kalian harus memiliki ilmu. Jika ingin sukses akhirat, juga harus memiliki ilmu. Demikian pula jika ingin sukses kedua-duanya, maka hendaklah memiliki ilmunya.
  2. Kejarlah dengan penuh kesungguhan untuk sukses duniamu seakan engkau tidak akan mati selamanya dan kejarlah dengan penuh kesungguhan untuk sukses akhiratmu seakan engkau mati esok pagi.
  3. Jika kalian ingin menjadi orang yang the best, maka kuncinya adalah pastikan bahwa segala sesuatumu selalu lebih baik dibandingkan hari dan masa sebelumnya.

Dari keterangan tersebut, maka harus dipahami bahwa pada dasarnya Allah SWT dan Rasulullah SAW tidak ingin dan tidak senang melihat hambanya hidup sengsara di dunia maupun di akhirat. Maka, Allah mendidik manusia dengan berbagai cara, di antaranya dengan menceritakan kondisi kaum di masa-masa yang akan datang maupun di masa yang lalu (seperti kasus Qorun dan Fir’aun):

  1. Ada manusia yang sukses dunia dengan gemerlapnya harta, namun sangat dekat dengan Allah SWT, ahirnya insan ini masuk surga.
  2. Ada manusia yang sukses dunia dengan gemerlapnya harta, namun sangat jauh dari Allah bahkan sangat memusuhi Allah, akhirnya orang seperti ini masuk neraka.

Demikian dan seterusnya berbagai kondisi manusia telah diceritakan Allah kepada insan untuk diambil ibroh atau pembelajaran agar insan bisa meniru yang baik dan meninggalkan yang tidak baik. Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berbuat baik dan Allah sangat tidak menyukai orang yang berbuat tidak baik dan kerusakan.

Salah satu firman Allah yang memberikan inspirasi dan hikmah besar dalam kehidupan ini adalah surah 102 At-Takatsur (Bermegah-megahan). Dalam ayat pertama, kata alhaakum berasal dari kata lahaa-yalhaa yang artinya menyibukkan diri dengan sesuatu sehingga mengabaikan hal lain yang lebih penting. Sementara kata at-Takaatsur berasal dari kata katsrah yang maknanya adalah “banyak”. Kata at-Takatsur menunjukkan adanya dua pihak atau lebih yang bersaing dalam memperbanyak dan bermegah-megah dengan harta sehingga yang satu mengaku memiliki kelebihan dibanding yang lain.

Beberapa ulama memberikan penjelasan tentang surah At-Takatsur:

Hasan al Basri menafsirkan bahwa bermegah-megahan dan saling berbangga di dalam ayat ini adalah dengan harta dan anak-anak.

Sementara Syaikh Wahbah az Zuhaili menafsirkan, kalian disibukkan oleh berbangga-bangga dengan harta, keturunan, dan kawan. Sibuk dengan memperbanyak hal itu memalingkan kalian dari beribadah kepada Allah dan beramal untuk akhirat. Surah At-Takatsur ini setidaknya menginformasikan “Keinginan manusia untuk bermegah-megahan dalam soal duniawi. Ia sering melalaikan diri dari tujuan hidupnya. Mereka baru menyadari kesalahannya itu setelah maut menjemputnya. Selanjutnya manusia di akhirat nanti akan ditanya tentang nikmat yang dibangga-banggakannya itu”.

Diabadikannya berita bermegah-megah dalam harta ini disebabkan oleh kelalaian manusia tentang esensi harta yang dimiliki. Harta benda dianggap nilai sejati, strata sosial yang tak ternilai, bahkan keabadian dalam kehidupan hingga kemewahan tersebut melalaikan hubungan manusia dengan Allah yang telah menitipkan harta itu dengan maksud menjadi fasilitas dalam meraih kehidupan bahagia di akhirat nanti.

Yang lebih mencengangkan lagi dalam berita ini yaitu kesadaran manusia di dalam meletakkan harta secara benar adalah saat menghadapi kematian, maksudnya ketika pintu tobat telah tertutup bagi manusia.

Syaikh Wahbah az Zuhaili menjelaskan, “Berbangga-bangga dan saling bermegahan itu menyebabkan saling tidak menyapa, hasud, benci, menelantarkan amalan akhirat dan umat, serta tidak memperbaiki budi pekerti. Kalian akan mengetahui semua itu kelak pada hari kiamat.”

*Hikmah Surah At-Takatsur *
Maka, salah satu hikmah besar yang harus diambil dari pelajaran surah At-Takatsur ini adalah “Titipan Allah berupa kekayaan dunia bukanlah untuk bermegah-megahan tetapi esensinya untuk memfasilitasi manusia agar di akhirat menjadi ahli surga”.

Dengan harta yang Allah titipkan itu, manusia bisa berbuat banyak di antaranya membantu sarana ibadah ritual ataupun sosial seperti:

  1. memberikan beasiswa kepada anak miskin,
  2. memberikan modal kerja kepada kaum dhuafa,
  3. mendanai kebutuhan dakwah dalam pendidikan Al-Qur’an,
  4. membantu pejuang Al-Qur’an baik dalam sisi kehidupan ekonominya maupun biaya dakwahnya dan lain-lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published.