Enter your keyword

post

Hikmah Rasulullah Saw Dilahirkan dalam Keadaan Yatim Piatu

Hikmah Rasulullah Saw Dilahirkan dalam Keadaan Yatim Piatu

Oleh: Ust. Abd. Rohim H., S.Ag., M.Pd.

Rasulullah Muhammad SAW adalah putra Abdullah bin Abdul Muthalib, sedangkan ibunya bernama Siti Aminah binti Wahbin bin Abdul Manaf bin Zuhrah.

Ketika Rasulullah berusia kurang lebih tiga bulan dalam kandungan ibu Aminah, ayah beliau, yaitu Abdullah, meninggal dunia di Kota Yastrib (Madinah). Pada waktu itu, Abdullah beserta rombongan yang lain pulang dari berdagang dari Negeri Syam.

Sesampai di Yatsrib, Abdullah sakit demam. Oleh teman-temannya, ia dititipkan untuk dirawat di rumah seseorang yang berbangsa Quraisy dari bani ’Ady yang sudah bertempat tinggal di sana.

Setelah teman-teman Abdullah sampai di Kota Makkah dan Abdul Muthalib tidak mendapati Abdullah bersama mereka, maka Abdul Muthalib menanyakan keberadaan Abdullah. Teman-teman Abdullah menjawab bahwa Abdullah sakit di Yastrib dan menginap di rumah orang Quraiys. Seketika itu Abdul Muthalib mengutus anaknya yang tertua bernama Haris untuk melihat Abdullah di Yastrib.

Setiba di Yastrib, Haris dapat kabar bahwa Abdullah sudah wafat beberapa hari sebelumnya dan sudah dimakamkan. Dengan demikian, Rasulullah SAW sudah dalam keadaan yatim sebelum lahir ke dunia.

Pada 9 Robiul Awwal tahun Fiil ke-1 atau bertepatan dengan 20 April 571 M, lahirlah Nabi Muhammad SAW dengan bidan Sitti Syifa’, ibunda sahabat Abdurrohman bin Auf.

Telah menjadi kebiasaan kaum bangsawan Arab bahwa apabila seorang anak lahir, baik laki-laki maupun perempuan, setelah beberapa hari disusukan oleh ibunya, lalu diserahkan kepada orang lain yang bertempat tinggal di luar kota untuk dijadikan ibu yang menyusui dan mengasuhnya. Rasulullah Muhammad SAW waktu itu disusui dan diasuh sampai berusia 4 tahun oleh Halimah binti Abi Dzuaib, seorang perempuan dari Dusun Banu Sa’ad, istri Abu Kabsyah.

Selama diasuh ibunda Halimah, Muhammad kecil juga melakukan kegiatan seperti anak-anak kecil lainnya, termasuk kebiasaan ikut menggembalakan kambing. Banyak pengalaman yang didapat Rasulullah SAW ketika beliau melakukan pekerjaan mengembala kambing ini, termasuk ditinjau dari segi kepemimpinan (leadership).

Pada usia lebih dari 4 tahun, riwayat lain menyatakan sudah berumur 5 tahun, Rasulullah SAW dikembalikan ke pangkuan ibunya, Siti Aminah. Setelah usia 6 tahun, Siti Aminah ingin ke Madinah untuk bersilaturahmi ke familinya di sana, juga berziarah ke makam Abdullah bin Abdul Muthalib. Rasulullah pun diajak. Hampir satu bulan Siti Aminah dan Rasulullah SAW, juga seorang budak peninggalan ayahnya yang bernama Ummu Aiman, berada di Kota Yastrib. Itu dirasa cukup, maka mereka bertolak kembali ke Makkah.

Dengan takdir Allah SWT, waktu perjalanan pulang ke Makkah dan sampai di suatu tempat yang bernama Abwa’, Siti Aminah jatuh sakit dan beberapa hari kemudian wafatlah ia dan dikuburkan d itempat itu juga. Pada usia 6 tahun Rasulullah sudah menjadi yatim piatu. Beliau diajak pulang ke Makkah oleh Ummu Aiman.

Sesampai di Makkah, oleh Ummu Aiman, Rasulullah SAW diajak ke rumah kakeknya, yaitu Abdul Muthalib. Ia diasuh oleh Abdul Muthalib sampai usia 8 tahun.

Dari cerita kehidupan Nabi SAW, mulai ayahnya wafat sampai ibunya wafat di atas, kita dapat mengambil hikmah bahwa Allah sudah menyiapkan rasul dalam keadaan yatim piatu pada usia yang masih dini sekali. Dengan demikian, bisa diambil hikmah dalam perjalanan dakwah beliau adalah:

  1. Agar kelak setelah beliau diutus menjadi nabi, tidak ada tuduhan dari kaumnya bahwa beliau dipersiapkan oleh ayah dan ibunya untuk berdakwah.
  2. Menunjukkan sejak kecil Rasulullah SAW sudah dipersipkan Allah untuk menjadi rasul dengan pembinaan dan pendidikan langsung dari Allah SWT tanpa campur tangan kedua orang tuanya.
  3. Bahwa kemuliaan Rasulullah SAW benar-benar dari Allah, bukan dari orang tua atau kerabat terdekatnya atau harta bendanya.
  4. Dakwah yang dibawa Rasulullah SAW bukan meneruskan jejak ayahnya atau dipersiapkan oleh ayah atau ibunya.
  5. Apa yang disampaikan Rasulullah SAW adalah benar merupakan wahyu dari Allah. Sebab, Nabi Muhammad SAW bukan keturunan bangsawan yang mudah mencari guru.
  6. Kehidupan Rasulullah SAW sejak kecil yang tidak ditemani ayahnya menunjukkan peran seorang ibu juga sebagai pendidik.
  7. Rasulullah SAW mudah menerima respons nilai-nilai kemanusiaan karena saat kecil sudah merasakan hidup kekurangan.
  8. Rasulullah SAW sangat mencintai dan menyayangi orang fakir miskin dan anak-anak yatim karena beliau pernah merasakannya.
  9. Rasulullah SAW memiliki perasaan halus dan kepekaan yang tinggi.
  10. Ini menunjukkan bahwa seseorang yang dilahirkan dalam keadaan yatim itu bukan merupakan musibah.
  11. Menyadari bahwa manusia dapat menjadi mulia hanya karena diangkat menjadi mulia oleh Allah dan kekuatannya bukan dari orang tua dan harta.

Referensi:
Al Ghazaly, Muhammad Nuh. 2008. Perjalanan Hidup Rasulullah SAW. Surabaya: Arkola.
Husain Haekal, Muhammad. 2006. Penerjemah Ali Audah. Sejarah Hidup Muhammad SAW. Jakarta: PT Mitra Kerjaya.
Munawar Chalil, Kelengkapan Tarich Nabi Muhammad, Semarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published.