Enter your keyword

post

Hukum Berqurban, Padahal Belum di Aqiqohi [ oleh Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA. ]

Hukum Berqurban, Padahal Belum di Aqiqohi [ oleh Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA. ]

Kurban (qurbaan, pendekatan) adalah penyembelihan hewan tertentu (onta, sapi, atau kambing) dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT pada Hari Raya Haji (Idul Adha, 10 Dzulhijjah) dan/atau hari tasyriiq (tgl 11, 12, dan 13 Dzulhijjah).

Para fuqahaa’ (ulama ahli fiqih) berbeda pendapat tentang hukum kurban. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa kurban itu hukumnya wajib dilakukan sekali dalam setahun jika mampu. Alasan beliau antara lain adalah firman Alklah SWT dalam surat Al-Kautsar ayat 2 (yang maknanya): ”Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah”. Dan sabda Rasulullah SAW (yang maknanya): ”Barangsiapa yang telah mempunyai kemampuan tetapi tidak berkurban, maka anganlah ia menghampiri tempat salat kami” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Akan tetapi, jumhur fuqahaa’ (mayoritas ulama ahli fiqih) yang terdiri atas para ulama mazhab Malikiy, Syafi’iy, dan Hanbaliy berpendapat bahwa hukum kurban adalah sunnah muakkadah (yang amat dianjurkan) bagi yang mampu. Pendapat ini antara lain didasarkan pada sabda Rasulullah SAW (yang maknanya): ”Ada tiga hal yang wajib atasku dan sunah bagi kamu: shalat Witir, menyembelih kurban, dan shalat Dhuha” (HR Ahmad, al-Hakim dan ad-Daruquthniy dari Ibnu Abbas).

Sementara itu akikah (’aqiiqah, membelah) adalah menyembelih binatang (lazimnya kambing) dalam rangka menyambut kelahiran anak. Mengenai waktu akikah, para fuqahaa’ berbeda pendapat sebagai berikut. Jumhur fuqahaa’ berpendapat bahwa waktu pelaksanaan akikah adalah pada hari ketujuh dari kelahiran anak. Hal ini didasarkan pada hadis Rasulullah SAW (yang maknanya): ”Setiap anak itu tergadai (dan ditebus) dengan menyembelih binatang akikah pada hari ketujuh dari hari kelahirannya…” (HR Ashhaabussunan). Tetapi, Imam Syafi’iy berpendapat bahwa jika pada hari ke tujuh belum dapat melaksanakan akikah, maka waktunya bisa diperpanjang sampai hari ke-14 (dua minggu). Sementara Imam Malik berpandangan lebih longgar sedikit, yakni waktu akikah Hukum dapat diperpanjang sampai hari ke-21 (tiga minggu). Hal ini didasarkan pada pilihan terhadap pemaknaan satu hadis yang sama bahwa Rasulullah SAW bersabda (yang maknanya) : ”Akikah itu dapat dilaksanakan pada hari ketujuh, keempatbelas, atau keduapuluhsatu” (HR Al-Baihaqiy dari Abdullah bin Buraidah). Bahkan, sebagian ulama Malikiyah ada yang berpendapat bahwa waktu akikah dapat diperpanjang lagi sampai waktu sebelum anak mencapai usia baligh (dewasa).

Sampai saat ini berlum ada fuqahaa’ (ulama ahli fiqih) yang berpendapat bahwa akikah boleh dilaksanakan walaupun orang yang diakikahi sudah dewasa. Yang ada hanyalah brosur-brosur atau spanduk-spanduk yang menawarkan kambing akikah yang tidak membatasi umur yang diakikahi.

Memang ada riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW mengakikahi diri beliau sendiri setelah beliau diangkat menjadi rasul (diriwayatkan oleh al-Baihaqiy dari Anas RA), tetapi al-Baihaqiy sendiri menyatakan bahwa ini adalah hadis munkar (mendekati palsu), sedangkan Imam an-Nawawiy menyatakannya sebagai hadis baathil (batal, tidak dapat dipakai sebagai dasar hukum). Memang Ibnu Chajar al-Asqalaniy berpendapat bahwa untuk amalamal keutamaan (fadlaa-ilul a’maal) tidak harus didasarkan pada hadis shahih, melainkan boleh berdalil pada hadis dha’iif (lemah), tetapi tentu bukan hadis yang kelemahannya sampai di tingkatan munkar ataupun baathil.

Penting diketahui bahwa menurut jumhur fuqahaa’ hukum akikah itu tidak wajib. Bisa dibayangkan betapa berat nasib orang miskin jika akikah itu wajib; mereka akan berdosa kalau tidak melaksanakannya.

Jumhur fuqahaa’ berpendapat bahwa hukum akikah itu sunah (dianjurkan) itu pun jika mampu. Jika tidak mampu, maka tidak disunahkan. Karena itu, umat Islam tidak perlu ngoyo (memaksakan diri) untuk melaksanakan akikah agar tidak memberatkan diri sendiri.

Bagaimana halnya orang yang belum diakikahi, bolehkah dia melaksanakan kurban? Sungguh tidak ada satu dalil pun yang mengaitkan kurban dengan akikah. Dua ibadah itu berdiri sendiri dan punya ketentuan sendiri-sendiri. Seseorang yang sudah baligh (dewasa) berarti sudah tidak ada lagi kesunnahan untuk berakikah karena waktunya sudah habis. Tinggallah kesempatan yang ada adalah berkurban karena masa kesunnahan kurban bagi seseorang itu tidak terbatas, sejak lahir sampai akhir hayat, bahkan sesudah mati pun masih boleh dilaksanakan kurban atas namanya. Hal ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan dari Aisyah dan Abu Hurairah ra bahwa setiap tahun Rasulullah SAW berkurban dengan dua ekor kambing, yang satu untuk beliau dan keluarga, kemudian yang satu lagi untuk umat beliau yang belum berkurban (HR Ahmad dan Ibnu Majah). Jadi, orang yang sewaktu kecilnya belum diakikahi boleh bahkan dianjurkan untuk berkurban jika ada kemampuan untuk itu.

Bagaimana jika ada orang yang ingin menggabungkan niat kurban dan akikah? Ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

1. Rasulullah SAW dan para sahabat beliau tidak pernah melakukan yang demikian, padahal masalah ini lebih berdimensi ritual sehingga harus ada petunjuk, atau contoh, atau setidaknya isyarat dibolehkannya hal itu dilakukan. Sebab, dalam hal ibadah ritual kaidah fiqhiyyah paling pokok adalah: “Pada prinsipnya dalam hal ibadah itu dilarang (batal) sampai ada dalil yang menunjukkan adanya perintah”.

2. Dari aspek fiqhiyyah ada kesenjangan yang cukup lebar antara kurban dengan akikah karena kalau kurban itu boleh dan bisa dilakukan oleh orang usia berapa pun, sedangkan akikah hanya boleh dan sah dilakukan ketika anak baru berusia 7 hari, atau 14 hari, atau 21 hari, atau maksimal sebelum baligh.

Jadi, bagi kaum muslimin dewasa yang semasa kecil belum diakikahi, kemudian sekarang ada kemampuan untuk berkurban, maka silakan berkurban, tidak usah mengaitkannya dengan akikah yang belum/tidak terlaksana.

Leave a Reply

Your email address will not be published.