Enter your keyword

post

Hukum Muslim Memelihara Anjing

Hukum Muslim Memelihara Anjing

KONSULTASI AGAMA

Hukum Muslim Memelihara Anjing

Oleh: Prof. Dr. Ali Aziz, M.Ag.

Tanya:     

Assalamu’alaikum wr wb.          

Pak Profesor, saya ustaz ”kecil-kecilan”, hanya guru mengaji di daerah yang kebanyakan penduduknya memelihara anjing. Anak saya yang di bangku SD ingin juga memeliharanya. Saya tidak mengizinkan, sebab saya takut nanti orang memanggil saya “Ustaz Anjing” karena memelihara anjing. Bolehkah saya mengizinkan anak saya memelihara anjing? Demikian, terima kasih.

Budi Sutarmaji – Magetan

Jawab:

Wa’alaikumussalam Wr.Wb.

Pak Budi yang baik. Bapak tak perlu takut dipanggil ustaz anjing. Anggap saja itu panggilan kehormatan. Anjing adalah hewan yang dimuliakan, sebab ia mengawal tujuh pemuda pejuang Islam (ash-habul kahfi) yang bersembunyi dalam gua selama 309 tahun untuk menghindari kekejaman penguasa saat itu, sebagaimana dikisahkan dalam QS Al-Kahfi [18]: 18. Konon, ketika Makkah belum sepadat sekarang, gunung-gunung di sekitar Ka’bah dipenuhi anjing liar.

Menjelang subuh, mereka turun dan menggonggong di lorong-lorong perkampungan untuk membangunkan orang untuk shalat, lalu kembali naik ke gunung. Kita bahkan harus meniru hewan itu, sebab perutnya selalu kempes, amat setia kepada pemilik, sangat cerdas, dan kuat bangun malam (qiyamul lail), tidak tidur semalaman demi baktinya kepada pemiliknya. Semua ini saya jelaskan agar Bapak senyum saja, tidak marah jika sewaktu-waktu ada orang mengolok-olok bapak dengan hewan itu.

Menurut saya, jika anak bapak masih bisa dialihkan ke hewan lain, misalnya kucing, kelinci dan sebagainya, maka sebaiknya tidak memelihara anjing. Tapi, jika ia tetap bersikeras untuk memelihara anjing, maka tak apa Bapak izinkan dengan dua syarat.

Pertama, ada keperluan yang jelas, misalnya untuk pertanian, berburu, keamanan rumah, perdagangan, dan sebagainya. Al-Qur’an mengizinkan menggunakan anjing yang terlatih untuk berburu (QS Al-Maidah [5]: 4). Jika tidak ada kepentingan yang jelas, maka perhatikan sabda Nabi SAW berikut ini, “Barangsiapa memelihara anjing selain untuk mengembala ternak, atau berburu, atau menjaga kebun atau tanaman, maka pahalanya dikurangi satu qirath (seperempat gram) tiap harinya” (HR Al Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra).

Berdasar hadis ini, maka para ulama Syafi’iyah memandang haram hukumnya memelihara anjing tanpa ada kepentingan yang jelas. Sementara ulama lainnya memandang makruh. Sebab, dalam hadis ini disebutkan pahalanya hanya dikurangi, bukan dihapus semuanya.

Kedua, ada tempat tersendiri untuk anjing, tidak serumah agar tidak terkena najisnya, serta anjing itu tidak membahayakan orang. Malaikat rahmat tidak akan memasuki rumah yang terdapat anjing di dalamnya. Nabi SAW bersabda, “Malaikat tidak mau masuk rumah yang di dalamnya ada anjing dan patung” (HR Bukhari dan Muslim). Demikian, wallahu a’lam.  

Leave a Reply

Your email address will not be published.