Enter your keyword

post

Hybrid Learning dan Blended Learning

Hybrid Learning dan Blended Learning

Oleh: Tri Eko Sulistiowati

Pandemi Covid-19 yang belum berlalu memunculkan banyak kebijakan baru di segala lini kehidupan masyarakat, tak terkecuali di dunia pendidikan. Termasuk di lembaga nonformal seperti taman pendidikan Al-Qur’an (TPQ) yang harus melakukan pembelajaran daring (dalam jaringan) untuk tahun ajaran 2020-2021 hingga kini akan memasuki tahun ajaran baru.

Pelan tapi pasti, kondisi mulai berangsur-angsur membaik walau belum pulih benar. Tapi, kesadaran masyarakat akan pentingnya SOP protokol kesehatan sebagai kebiasaan baru di era new normal di evaluasi sebagai pencegahan preventif yang bisa memutus mata rantai penyebaran virus.

Namun, pemerintah tidak gegabah dalam mengambil keputusan tentang pembelajaran tatap muka atau luring seperti sebelum ada wabah korona di Indonesia. Karena itu, sosialisasi dilakukan untuk kesiapan pembelajaran tatap muka (PTM). Maka, mulailah diberlakukan model hybrid learning dan blended learning. Yaitu meramu online learning dengan face to face learning di tengah pandemi.

Sebagus-bagusnya pembelajaran daring yang sudah diterapkan, hal ini masih kurang lengkap dan kurang sempurna jika tidak ada tatap muka namun. Karena PTM tahun ini masih dibatasi oleh jumlah peserta dan durasi waktu, dibutuhkan perencanaan konsep hybrid learning dan blended learning menjadi pilihan.

Solusi yang tepat bagi lembaga adalah mempersiapkan pembelajaran berbasis digital dan pembelajaran manual dengan segala perangkat untuk memudahkan dalam proses pembelajaran yang akan diadakan. Inilah bagian dari pelayanan yang harus dilakukan agar kualitas pembelajaran tetap terjaga, “Commitment To Quality Education”.

Konsep ini efektif di tengah pandemi yang masih belum usai. Ini merupakan metode proses belajar bersemuka (tatap muka) berpadu dengan e-learning secara harmonis. Satu kelompok bisa tatap muka yang lain bisa melalui zoom meeting.

Penerapan PTM pada tahun ajaran 2021-2022 di kota-kota besar seperti di Surabaya dibatasi dengan jumlah siswa terbatas, sesuai aturan Dinas Pendidikan Kota Surabaya. Untuk itu, sekolah menerapkan PTM sebagian dan sebagian daring dalam waktu yang sama. PTM ataupun pembelajaran daring mendapatkan pelayanan yang sama. Hal ini dilakukan secara bergantian. Setiap siswa akan merasakan PTM serta daring.

Dalam beberapa kegiatan, konsep ini sudah sering dilakukan. Di waktu yang sama, sekolah mengadakan pertemuan dengan guru dan secara zoom, orang tua bisa mengikuti, termasuk siswa langsung bisa mengikuti. Semua ini dalam rangka memberikan pelayanan terbaik proses pembelajaran di tengah pandemi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.