Enter your keyword

post

Inovasi agar Al-Qur’an Tersampaikan kepada Umat

Inovasi agar Al-Qur’an Tersampaikan kepada Umat

Nurulfalah.org – Belajar sepanjang hayat. Meskipun dalam suasana pandemi, semangat belajar tidak boleh pudar. Hal itu termasuk dalam hal mempelajari dan menggelorakan pembelajaran Al-Qur’an kepada masyarakat.

Semangat inilah yang diusung oleh para pejuang Al-Qur’an dari beberapa provinsi. Mereka tergabung dalam diklat standardisasi Al-Qur’an metode tilawati level dua tingkat nasional yang dihelat pada 17 Januari 2021.

Sebanyak 39 pejuang Qur’an dengan khidmat mengikuti kegiatan yang dibuka secara langsung oleh Dr. KH Umar Jaeni, M.Pd., direktur eksekutif Pesantren Alquran Nurul Falah. Acara yang didukung penuh oleh LAZIS Nurul Falah tersebut diselenggarakan melalui Zoom Meeting. Hal ini dilakukan karena pandemi Covid-19 masih berlangsung dan wilayah Jawa–Bali sedang melaksanakan PPKM (pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat) mulai 11–25 Januari 2021. 

KH Umar menyampaikan apresiasi tinggi atas semangat para pejuang Qur’an tersebut. Mereka pantang menyerah dalam belajar dan mempelajari Al-Qur’an untuk mengajarkannya kepada para santri.

”Ada tipe manusia yang ketika diberi amanah bersikap cuek. Ada yang biasa saja. Ada pula yang memperhatikannya sebagaimana yang tercantum dalam surah Al-Fathir ayat 35. Semoga kita termasuk golongan yang ketiga,” tuturnya.

Ghirah dalam mempelajari Al-Qur’an tidak boleh pudar. Apalagi orang-orang yang mempelajari dan mengajarkan Qur’an dapat memperoleh keberkahan yang luar biasa dari Allah SWT. Tentu tugas ini tidaklah mudah karena para guru ngaji merupakan garda depan dalam mencetak generasi calon pemimpin yang cerdas, jujur, amanah, dan berakhlak karimah.

“Bersama Al-Qur’an hidup lebih tenang. Mari kita jaga semangat di jiwa kita untuk istiqamah dalam mengajarkan kitab suci ini dengan metode yang mudah dipelajari. Selain itu, perlu dicari inovasi-inovasi baru,” tegas KH Umar.

Dia menambahkan, Pesantren Al-Qur’an Nurul Falah siap menjawab tantangan tersebut dengan membuat diklat standardisasi level satu, yaitu mengantarkan para guru ngaji mengajarkan Al-Qur’an mulai jilid 1 sampai jilid 6.

Sementara itu, dalam diklat standardisasi level dua ini, para peserta diajak untuk mengajarkan Al-Qur’an model tadarus. Misalnya, bagaimana caranya agar bisa lebih efektif dalam mengantarkan generasi muda belajar Al-Qur’an dengan lebih cepat dan hasilnya berkualitas. ”Sekaligus target pembelajaran Al-Qur’an metode tilawati ini di level 1 dan level 2 adalah bagaimana mengantarkan anak-anak kita menjadi generasi Qur’ani,” ujarnya.

KH Umar mengajak para peserta untuk menjadi guru tilawati yang baik dengan terus memperdalam ilmu Al-Qur’an dan menambah pengetahuan. Hal itu dapat dilakukan dengan mengikuti kajian-kajian Islami serta melaksanakan ibadah wajib dan sunah seperti kebiasaan puasa sunnah dan lain-lainnya. (eko/tri)

Leave a Reply

Your email address will not be published.