Enter your keyword

post

Ketika Anak Dilanda ”Badai” Emosi Negatif

Ketika Anak Dilanda ”Badai” Emosi Negatif

Oleh: Ust. Drs. H. Subiyanto

Aliya, 6 tahun yang biasanya bisa dibilang anak yang tenang tanpa masalah, tiba-tiba menjadi sensitif sekali dan gampang marah. Beberapa kali ibunya mendapati sang anak membanting pintu kamar dan beberapa alat main tanpa sebab yang jelas. Saat ibunya ingin bertanya penyebabnya, Aliya seperti membisu dan menolak terbuka. Ia hanya mengatakan sedang jengkel.

Menghadapi anak-anak memang harus dengan kesabaran yang tinggi, terutama saat mereka menunjukkan ekspesi emosi yang negatif seperti marah tanpa sebab, terus-terusan membantah dan memberontak, tantrum, dan beragam ekspresi emosi negatif lainnya. Di sini, lagi-lagi kesabaran kita sebagai orang tua kembali dipertaruhkan.

Orang tua diharapkan punya stok kesabaran yang berlebih bila menghadapi situasi ini. Kita saja yang mengaku sebagai orang tua kadang belum bisa mengendalikan perasaan, kan?

Nah, apalagi anak-anak yang masih sulit mengenali emosi apalagi meredamnya.

Berikut adalah beberapa kiat dan cara untuk memahami emosi negatif anak dengan sudut pandang mereka.

  1. Jangan Menyalahkannya
    Anak-anak yang berani menolak perintah kita bukan berarti anak tersebut pembangkang atau tidak mau menurut. Mereka mungkin punya kemauan sendiri. Ingat, anak yang berkemauan keras bukan anak bandel. Mereka hanya punya sudut pandang sendiri. Ketika mereka menolak, jangan langsung menyalahkannya. Ajaklah berkomunikasi yang positif serta tanyakan alasannya dan apa yang diinginkannya. Jika keinginannya berlawanan dengan kita, dekati dan bujuk dengan halus. Memarahinya hanya akan membuatnya menjadi semakin menolak, memberontak, bahkan menjauh dari kita.
  2. Beri Dukungan atau Pilihan
    Daripada memarahi anak, lebih baik tunjukkan sikap bahwa Anda benar-benar peduli dengan perasaannya. Misalnya, ketika anak marah karena menolak untuk mandi, berikan ia pilihan dengan berkata, “Adik, kalau mandi sekarang nanti bisa lanjut main lagi. Tapi kalau mandinya nanti kemaleman, adik keburu ngantuk nggak bisa lama mainnya.” Berikan pilihan-pilihan sederhana.
    Lalu, jika anak-anak terlihat kecewa, berilah dukungan yang positif. Misalnya, anak kecewa karena kalah lomba dan tampak tercenung sedih. Sebagai orang tua, berilah dukungan penuh, misalnya dengan berkata, “Nak, nggak apa-apa sekarang kalah, namanya juga lomba, insya Allah pada waktunya nanti kalian akan bisa juara. Yang penting usahanya sudah maksimal dan Allah mempunyai rencana yang lebih baik lagi untuk kalian. Lain kali bisa coba lagi, ya! ”
  1. Jangan Memaksakan perasaan Anak
    Sebagai orang tua, jelas kita tidak senang jika melihat anak cemberut atau marah. Tanpa sadar, kita sering memaksa anak mengubah perasaannya dengan cepat, misalnya dengan berkata, “Bunda nggak suka wajahmu cemberut gitu. Sekarang, senyum yuk, Nak.” Tindakan seperti ini justru bisa membuat kemunduran untuk perkembangan emosional anak. Berikan anak waktu untuk merasa kecewa atau sedih. Dengan begitu, ia bisa belajar mengenali emosinya. Yang perlu Anda lakukan adalah menjaga agar emosi negatif tersebut tidak diekspresikan dengan berlebihan berteriak keras, menjerit apalagi hingga berdampak melukai diri sendiri, merusak benda sekitarnya atau orang lain.
  2. Tetapkan Batasan
    Emosi negatif, seperti marah, kecewa, sedih, tetap harus dirasakan anak. Akan tetapi, Anda tetap harus memberikan batasan, misalnya ketika anak kecewa lalu ia meninju-ninju tembok yang bisa melukai tangannya, jangan panik untuk langsung menghentikan atau berteriak, perlahan dekati anak dan memeluknya, katakan pada anak, “Ayah paham Kakak lagi marah. Tetapi, harus bisa jaga diri dengan baik, ya. Ayah sama Bunda sayang sama Kakak.” Kata-kata seperti ini diucapkan untuk menenangkannya. Tujuan lainnya agar anak tidak melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya.

Anak-anak memang perlu merasa sedih, kecewa, marah, dan berbagai bentuk emosi negatif lainnya. Hal ini penting untuk mengembangkan kemampuan emosionalnya. Sebagai orangtua, yang perlu Anda lakukan adalah dampingi untuk memastikan bahwa anak-anak tidak terus berlarut-larut pada emosi negatif hingga mempengaruhi karakter dan perilakunya. Sebaliknya memberi penjelasan baik dan buruknya ketika melakukan itu semuanya agar tahapan perkembangan psikologisnya yang positif.

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS At-Taghabun 64: 14) .

Leave a Reply

Your email address will not be published.