Enter your keyword

post

KISAH ORANG-ORANG SALEH (EDISI 1)

KISAH ORANG-ORANG SALEH (EDISI 1)

Syekh Abdul Qadir Al Jailani, Mujahid dan Mujaddid

Oleh: Ust. Abd. Rohim Hasan, S.Ag., M.Pd.

Ia lahir sebagai anak yatim karena ayahnya wafat ketika beliau masih dalam kandungan enam bulan di tengah keluarga yang hidup sederhana dan saleh. Ayahnya, al-Imam Sayyid Abi Shalih Musa Zangi Dausat, adalah ulama fuqaha ternama, mazhab Hambali, dan garis silsilahnya berujung pada Hasan bin Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah SAW.

Sementara ibunya adalah Ummul Khair Fathimah, putri Sayyid Abdullah Sauma’i, seorang sufi terkemuka waktu itu. Dari jalur ini, silsilahnya akan sampai pada Husain bin Ali bin Abi Thalib. Jika silsilah ini diteruskan, akan sampai kepada Nabi Ibrahim melalui kakek Nabi SAW, Abdul Muthalib. Syekh Abdul Qadir Al Jailani termasuk keturunan Rasulullah dari jalur Siti Fatimah binti Muhammad SAW. Karena itu, ia diberi gelar pula dengan nama Sayyid.

Keistimewaan Syekh Abdul Qadir al-Jailani sudah tampak ketika dilahirkan. Konon, ketika mengandung, ibunya sudah berusia 60 tahun. Ketika dilahirkan yang bertepatan dengan bulan Ramadhan, Syekh Abdul Qadir al-Jailani tidak mau menyusu sejak terbit fajar hingga magrib.

Kebesaran Syekh Abdul Qadir al-Jailani bukan semata-mata karena faktor nasab dan karamahnya. Ia termasuk pemuda yang cerdas, pendiam, berbudi pekerti luhur, jujur, dan berbakti kepada orang tua.

Karena itu, beliau menguasai berbagai ilmu pengetahuan, terutama dalam bidang agama. Ia menguasai ilmu fikih dan ushul fikih. Kendati menguasai mazhab Hanafi, ia pernah menjadi mufti mazhab Syafi’i di Baghdad.

Selain itu, beliau dikenal sangat alim, wara serta mempelajari ilmu sufi dan tirakat. Beliau biasa melakukan tirakat, riyadha, dan mujahada melawan nafsu. Beliau sebagai peletak dasar ajaran tarekat Qadiriyah.

Syeh Abdul Qadir al-Jailani ini dikenal juga sebagai orang yang memberikan spirit keagamaan bagi banyak umat. Karena itu, banyak ulama yang menjuluki ”muhyidin” (penghidup agama) di depan namanya.

Beliau mendapat julukan quthubul auliya’ serta ghautsul a’dzam, orang suci terbesar dalam Islam. Beliau berhasil memadukan antara syariat dan sufisme secara praktis dan aplikatif.

Jika mujaddid Islam pada abad ke-11 M/5 H adalah Imam al-Ghazali dan mendapat julukan hujjatul Islam karena keberhasilannya menggabungkan syariat dan tarekat secara teoritis, pada abad ke-12 M/6 H diduduki oleh seorang ulama yang berhasil memadukan antara syariat dan sufisme secara praktis-aplikatif, yang mendapat julukan quthubul auliya’ serta ghautsul a’dzam. Beliau adalah Syekh Abdul Qadir al-Jailani.

Nama lengkapnya adalah Sayyid Muhyidin Abu Muhammad Abdul Qadir ibn Abi Shalih Musa Zangi Dausat al-Jailani. Syekh Abdul Qadir dilahirkan di Desa Nif atau Naif, termasuk pada distrik Jailan (disebut juga dengan Jilan, Kailan, Kilan, atau al-Jil), Kurdistan Selatan, terletak 150 kilometer sebelah timur laut Kota Baghdad, di selatan Laut Kaspia, Iran. Wilayah ini dahulu masuk ke bagian wilayah Thabarishtan, sekarang sudah memisahkan diri dan masuk menjadi suatu provinsi dari Republik Islam Iran.

Ia dilahirkan pada waktu fajar, Senin, 1 Ramadhan 470 H, bertepatan dengan tahun 1077 M dan wafat di Baghdad pada Sabtu, 11 Rabiuts-Tsani 561 H/1166 M.

Kebanyakan biografi (dikenal sebagai manakib) tokoh sufi terpopuler ini penuh dengan fiksi tanpa mendasarkan pada fakta-fakta sejarah. Padahal, ulama ini merupakan tokoh sejarah yang cukup besar dalam wacana pemikiran Islam, terutama sejarah tasawuf. Sehingga para ulama banyak mengungkapkan bahwa Syekh Abdul Qadir merupakan mujtahid abad ke-14.

Karya beliau yang paling masyhur adalah al-Ghunya li Thalibi Thariqi al-Haqq (Kecukupan bagi Pencari-pencari Kebenaran). Salah satu edisinya terbit di Mesir pada tahun 1288. Di dalamnya memuat khotbah sang sufi mengenai ibadah dan akhlak, cerita-cerita tentang etika, serta keterangan mengenai 73 aliran-aliran Islam yang terbagi dalam 10 bagian.

Beberapa karya lainnya adalah al-Fath al-Rabbany yang berisi 62 khotbah yang disampaikan dalam tahun 545-546 H (1150-1152 M). Kitab kesufiannya yang terkenal adalah Futuh al-Ghayb, berisi 78 buah khotbah mengenai berbagai macam subjek keagamaan. Kitab ini berisi antara lain ajaran-ajarannya seputar akhlak (tasawuf ‘amali) disertai dengan silsilahnya dan keterhubungannya dengan Abu Bakar serta Umar. Secara khusus, kitab ini dianalisis oleh Walter Braune dengan judul Die Futuh al-Gaib” des Abdul Qadir (Berlin & Leipzig, tahun 1933).

Beliau seorang yang pekerja keras. Selain selalu mendekatkan diri pada Allah dengan sufisme dan tirakat, beliau berusaha semaksmal mungkin mencukupi kebutuhan nafkah istri dan anak-anaknya, memberikan pendidikan yang baik dan berkualitas kepada anak-anaknya, Beliau kepala keluarga yang sangat bertanggung jawab

Beliau orang yang sangat dalam dan luas ilmu agamanya dan memiliki waktu perioritas untuk mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat. Beliau punya banyak tempat majelis atau pengajian.

Jamaah beliau datang dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari rakyat kecil hingga pejabat tinggi istana, bahkan raja atau khalifah pun ikut pengajian beliau.

Ilmu yang diajarkan bermacam macam seperti tafsir, hadis, nahwu (tata bahasa), usul fiqh (dasar-dasar hukum Islam), dan lain-lain.

Beliau juga seorang yang dekat dengan Al-Qur’an sehingga diriwayatkan sering mengkhatamkan Al-Qur’an dalam satu malam. Wallahu a’lam. (Bersambung)

Sumber: Karomah dan Nasehat Syeh Abdul Qadir al-Jailani, Araska, Yogyakarta, 2019, karya: Ahmad Bisri Maulana.

Leave a Reply

Your email address will not be published.