Enter your keyword

post

LABELING – Spesial Parenting oleh Drs. H. Subiyanto

LABELING – Spesial Parenting oleh Drs. H. Subiyanto

Bodoh sekali sih kamu, begitu saja salah, tidak bisa…… Aduh anak saya ini loh pemalu sekali……. Dasar anak bandel……….

Dalam pergaulan sehari-hari, beberapa orang tua pasti tidak asing dengan kalimat-kalimat di atas. Beberapa orang tua yang lain mungkin pernah mendengar dan mengucapkan dengan versi lain dari kalimat sejenis. Versi-versi lain itu bisa kalimat negatif seperti contoh-contoh di atas dan bisa juga kalimat-kalimat positif yang berisi pujian tentang kehebatan-kehebatan anaknya.

Orang tua yang “sempurna” dan sulit menerima kesalahan dan kekurangan mungkin akan lebih banyak mengatakan kalimat-kalimat negatif. Orang tua yang “adil” mungkin pernah mengatakan kedua jenis kalimat tersebut, tergantung keadaan anak. Sementara orang tua lain yang selalu berpikir positif dan hanya mau melihat hal-hal positif pada anaknya mungkin hanya mengatakan kalimat-kalimat positif. Semua di atas merupakan labeling.

Labeling adalah proses melabel seseorang. Label, menurut yang tercantum dalam A Handbook for The Study of Mental Health, adalah sebuah definisi yang ketika diberikan pada seseorang akan menjadi identitas diri orang tersebut dan menjelaskan orang dengan tipe bagaimanakah dia. Dengan memberikan label pada diri seseorang, kita cenderung melihat dia secara keseluruhan kepribadiannya dan bukan pada perilakunya satu per satu.

Dalam teori labeling ada satu pemikiran dasar. Pemikiran tersebut menyatakan, “Seseorang yang diberi label sebagai seseorang yang devian dan diperlakukan seperti orang yang devian akan menjadi devian.”

Penerapan dari pemikiran ini akan kurang lebih seperti berikut: “Anak yang diberi label bandel dan diperlakukan seperti anak bandel akan menjadi bandel”. Atau penerapan lain: “Anak yang diberi label bodoh, dan diperlakukan seperti anak bodoh, akan menjadi bodoh”. Kalau begitu, mungkin bisa juga seperti ini “Anak yang diberi label pintar dan diperlakukan seperti anak pintar akan menjadi pintar”.

Pemikiran dasar teori labeling ini memang biasa terjadi. Ketika kita sudah melabel seseorang, kita cenderung memperlakukan seseorang sesuai dengan label yang kita berikan. Misalnya, seorang anak yang diberi label bodoh cenderung tidak diberikan tugas-tugas yang menantang dan punya tingkat kesulitan di atas kemampuannya karena kita berpikir: “Ah dia pasti tidak bisa. Kan dia bodoh, percuma saja menyuruh dia.”

Karena anak tersebut tidak dipacu, akhirnya kemampuannya tidak berkembang lebih baik. Kemampuannya yang tidak berkembang akan menguatkan pendapat/label orang tua bahwa si anak bodoh. Lalu orang tua semakin tidak memicu anak untuk berusaha yang terbaik, lalu anak akan semakin bodoh.

Anak yang diberi label negatif dan mengiyakan label tersebut bagi dirinya cenderung bertindak sesuai dengan label yang melekat padanya. Dengan ia bertindak sesuai labelnya, orang akan memperlakukan dia juga sesuai labelnya. Hal ini menjadi siklus melingkar yang berulang-ulang dan semakin saling menguatkan terus-menerus.

Dalam buku Raising A Happy Child, banyak ahli yang setuju bahwa bagaimana seseorang memandang dan merasakan dirinya sendiri akan menjadi dasar orang tersebut beradaptasi sepanjang hidupnya. Anak yang memandang dirinya baik akan mendekati orang lain dengan rasa percaya dan memandang dunia sebagai tempat yang aman dan kebutuhan-kebutuhannya akan terpenuhi. Sementara anak yang merasa dirinya tidak berharga tidak dicintai akan cenderung memilih jalan yang mudah, tidak berani mengambil risiko, dan tetap saja tidak berprestasi.

Bagi banyak orang (termasuk anak-anak) pengalaman mendapatkan label tertentu (terutama yang negatif) memicu pemikiran bahwa dirinya ditolak. Pemikiran bahwa dirinya ditolak dan kemudian dibarengi oleh penolakan yang sesungguhnya dapat menghancurkan kemampuan berinteraksi, mengurangi rasa harga diri, dan berpengaruh negatif terhadap kinerja seseorang dalam kehidupan sosial dan kehidupan kerjanya.

Penting bagi anak untuk merasa bahwa dirinya berharga dan dicintai. Perasaan ini ditemukan olehnya lewat respons orang-orang sekitarnya, terutama orang terdekat, yaitu orang tua. Kalau respons orang tua positif, tentunya tidak perlu dicemaskan akibatnya. Tetapi, adakalanya sebagai orang tua, tidak dapat menahan diri sehingga memberikan respons negatif seputar perilaku anak. Walaupun sesungguhnya orang tua tidak bermaksud buruk dengan respons-responsnya, namun tanpa disadari hal-hal yang dikatakan orang tua dan bagaimana orangtua bertindak, masuk dalam hati dan pikiran seorang anak dan berpengaruh dalam kehidupannya.

Ada beberapa saran bagi orang tua. Pertama, berespons secara spesifik terhadap perilaku anak, dan bukan kepribadiannya. Kalau anak bertindak sesuatu yang tidak berkenan di hati, jangan berespons dengan memberikan label karena melabel berarti menunjuk pada kepribadian anak, seperti sesuatu yang terberi dan tidak bisa lagi diperbaiki. Dengan demikian tidak ada pesan negatif yang masuk dalam pikiran anak, dan bahkan anak didorong untuk mau bertindak benar di waktu berikutnya.

Kedua, gunakan label untuk kepentingan pribadi orang tua. Sebenarnya melabel tidak selamanya buruk, asalkan label tersebut digunakan orang tua untuk dirinya sendiri agar lebih memahami dinamika perilaku anak. Misalnya, “Anakku A lebih bodoh daripada anakku B”. Tapi, label tersebut tidak dikatakan di depan anak. Dengan mengetahui dinamika anak lewat label yang ada dalam pikiran orang tua sendiri, hendaknya orang tua menggunakan label tersebut untuk menyusun strategi selanjutnya agar kekurangan anak diperbaiki.

Ketiga, menarik diri sementara jika sudah tidak sabar. Adakalanya orang tua sudah tidak sabar dan inginnya melabel anak, misalnya “Heeeeh kamu goblok banget sih, 1 + 1 saja tidak bisa-bisa”. Jika kesabaran sudah diambang batas, sebelum kata-kata negatif keluar, ada baiknya orang tua menarik diri sementara dari anak, time off. Katakan pada anak, “Mama sudah lelah, mungkin kamu juga sudah lelah. Kita istirahat dulu, nanti belajar lagi sama-sama. Siapa tahu setelah istirahat kita berdua lebih berkonsentrasi dan semangat belajar”.

Bagaimana cara orang tua berbicara dan menanggapi kekurangan-kekurangan anak akan sangat berpengaruh bagi anak sepanjang hidupnya. Oleh karena itu, orang tua harus sangat berhatihati dan mempertimbangkan secara matang apa yang akan diucapkan kepada anaknya. Mulutmu harimaumu, begitulah kata pepatah, yang dalam hal ini mulut orang tua bisa menjadi harimau bagi anak. Penting sekali orang tua selalu berkata-kata positif tentang anak agar anak jadi berpikir positif tentang dirinya dan bertumbuh dengan harga diri yang tinggi dan perasaan dicintai dan diterima.

Leave a Reply

Your email address will not be published.