67 Pembaca

Sudah beberapa orang tua mulai jenuh dan putus asa mendampingi anak belajar di rumah karena kebijakan pemerintah yang masih menerapkan BDR (belajar dari rumah) selama masa pandemi, yang belum diketahui sampai kapan dapat dikendalikan. Kejenuhan dan rasa putus asa para orang tua itu sangat dimaklumi. Sebab, banyak hal yang dialami. Misalnya, keterbatasan akses internet, kurangnya pengetahuan bahan ajar, tidak memiliki metode pengajaran yang tepat, belum lagi beban tugas rumah yang tidak “libur”, mulai dari memasak, merawat rumah, mencuci, dan menyediakan aneka kebutuhan harian seluruh anggota keluarga.

Menerima realitas anaknya yang aktif, usil, nakal atau sebutan lain, bila selama ini dapat berbagi dengan gurunya di sekolah, sekarang semua ditanggung sendirian di rumah. Tidak bisa lagi menyerahkan, menuntut, atau menagih sekolah atas segala tingkah polah anak tercinta, “Enak gurunya, sekarang tinggal ngasih tugas, nagih dan menilai, kita yang ngerjakan di rumah, jadi pusing…” begitu kira-kira sebagian keluh kesah para orang tua.

Kenyataan bahwa anak kita hari ini nakal, tidak nurut, suka membantah dan polah tingkah lain yang “mangkelno”, marilah dipandang tak ubahnya seperti mangga muda. Rasanya masam, kecut, bahkan ada pahitnya. ”Dagingnya” keras dan tidak berisi. Jika jatuh atau terkena sedikit benturan, mudah pecah, bentuknya juga tidak menarik, maka apakah orang tua tega membiarkannya jatuh, lepas dari tangkainya?

Bila orang tua ibarat pohon dan rantingnya serta dedaunan yang rimbun, maka mempertahankan tangkainya agar buah tetap tergantung kokoh, adalah satu-satunya jalan untuk membuat ananda tumbuh, kelak menjadi matang, menarik dipandang, harum dan manis rasanya.

Tangkailah yang menjaga buah agar tetap menyatu dengan kita sebagai pohonnya. Sebab, tangkailah yang menjadi “saluran” yang mengalirkan nutrisi yang dibutuhkan. Nutrisi penting yang dibutuhkan ananda sejak lahir hingga tumbuh dewasa dan matang adalah iman dan kasih sayang.

Iman dan kasih sayang orang tua merupakan dua entitas yang menjaga dan menghidupkan anak kita. Iman yang menjadikan kebal dan kuat jiwanya menghadapi aneka gelombang yang menerjang selama perjalanan hidupnya, sementara kasih sayang adalah darah yang mengantarkan semua pengajaran yang diberikan orang tua pada ananda.

Iman dan kasih sayang atau sebaliknya, keduanya menjadi satu keterpaduan yang menyatu, keduanya adalah energi yang sangat dibutuhkan anak-anak untuk tumbuh dan mencapai keberhasilan hidup. Orang tua yang memandang cukup iman saja, kemudian mengabaikan kasih sayang, maka iman yang tertanam menjadi rentan menghadapi gangguan dan godaan. Rentan dan rapuhnya iman karena tertanam hanya di kulit luar, iman masuk dalam diri anak disertai dengan rasa benci dan dendam sehingga tidak mampu merasuk hingga ke segenap syaraf dan persendian.

Demikian pula halnya bila memberi kasih sayang tanpa menanamkan iman, buah yang akan tumbuh dalam diri anak kelak adalah kehampaan dan kesia-siaan. Padahal, orang tua terbatas waktunya, panjang umurnya tak dapat diperkirakan dan kemampuan juga akan semakin berkurang sehingga banyak para orang tua sangat menderita di akhir hidupnya. Saat masa tua tiba, tidak seorang dari ananda dapat memberi rasa tenang dan bahagia. Mereka sibuk dengan urusan dunia masing-masing, mereka memberi orang tua pakaian, rumah, kendaran mewah dan kesempatan rekreasi ke tempat-tempat eksotis, tetapi sama sekali tidak berpikir ada masa depan jauh yang harus dilewati oleh kita orang tua, kebutuhan jiwa bukan lagi materi, sekadar alunan lagu dan derai canda tawa.

Bersabarlah atas rasa sakit, kecewa, jengkel, marah karena beragam perbuatan anak-anak kita saat ini. Mereka adalah utusan Allah untuk menguji kita, seberapa kuatnya ketundukan kita pada Allah yang telah memercayakan kehadiran mereka semua pada pernikahan kita. Semoga Allah menjadikan mereka qurrata a’yun dan imamul muttaqin. (H. Mim Saiful Hadi, M.Pd)