Enter your keyword

post

Membangun Cara Pandang Positif di Masa Pandemi

Membangun Cara Pandang Positif di Masa Pandemi

Oleh: Dr. KH Umar Jaeni, M.Pd.

Beberapa bulan yang lalu, semua orang mulai optimistis bahwa pandemi Covid-19 ini akan berangsur-angsur reda. Masyarakat Indonesia mulai bangkit. Berbagai sektor kegiatan masyarakat perlahan-lahan bergerak. Pulih seperti semula.

Cukup lama beban psikologis yang diderita. Terhitung sejak April 2020 sampai Juli 2021, hampir dua tahun kita diterpa kekhawatiran. Perasaan itu sedikit mulai sirna.
Tiba-tiba datang kabar mengejutkan. Penyebaran Covid-19 kembali menyeruak dengan risiko yang lebih berbahaya. Varian baru muncul. Ruang perawatan rumah sakit di mana-mana penuh. Tidak mampu lagi menampung pasien. Kematian sanak, saudara, dan kerabat setiap hari menyebar di WhatsApp.

Saat ini masyarakat gelisah kembali. Galau untuk mempertahankan hidup. Berjuang mencari penghasilan untuk bertahan hidup atau harus tinggal di rumah agar terhindar dari Covid-19. Pilihan yang serbasulit. Pada situasi seperti ini, manusia terasa tidak punya daya dan kekuatan apa pun. Serangan makhluk yang superkecil dan tidak terlihat oleh mata itu tidak mampu dihadang dengan senjata modern apa pun.

Panik, tentu iya! Tetapi, panik dan takut tidak menyelesaikan masalah, bahkan menambah kecepatan menurunnya kekebalan tubuh sesorang. Akibatnya, semakin mudah masuk virus berbagai macam penyakit. Lalu apa yang harus dilakukan?

Bersyukur umat Islam memiliki kitab sebagai panduan hidup sepanjang masa. Solusi serta menjawab segala problematika kehidupan.

Bagi seorang yang beriman, apa pun musibah yang terjadi dan menimpa dirinya, baik kecil ataupun besar, semua akan diterima dan disikapi sebagai kebaikan. Begitulah Rasulullah SAW mengajarkan.

Sebagaimana diceritakan dari Shuhaib bin Sinan ra, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya) dan ini hanya ada pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, dia akan bersyukur. Maka, itu adalah kebaikan baginya. Dan jika ditimpa kesusahan, dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya” (HR Muslim).

Dengan kelapangan jiwa menerima segala yang terjadi pada dirinya, ini membawa suasana batin yang tidak pernah putus asa. ”Ibrahim berkata, ’Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Rabbnya, kecuali orang-orang yang sesat” (QS Al-Hijr: 56).

”Jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah hanyalah orang-orang yang kafir.” (QS Yusuf: 87).

Agar hidup senantiasa dalam bimbingan Allah dan tidak menjadi orang yang kufur dan sesat, maka dalam menghadapi berbagai persoalan hidup terutama dalam menghadapi pandemi ini kita harus menyandarkan diri hanya kepada-Nya. Seraya menenggelamkan sikap putus asa.

Hakikat hidup ini ialah ujian. Maka, siap hidup harus siap menghadapi ujian. Siap ujian harus siap lulus. “Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS Al-Baqarah: 155).

Ayat tersebut menggambarkan bahwa ujian hidup itu pasti. Ujian hidup merupakan satu paket dengan kehidupan. Adapun jenisnya bermacam-macam.

Menyadari sepenuh hati bahwa Allah-lah yang merancang segala macam kejadian di muka bumi.

“Dan pada sisi Allah kunci-kunci semua yang gaib tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri dan Dia mngetahui apa yang ada di daratan dan di lautan dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula) dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (lauhul mahfudz)” (QS Al-An’am: 59).

Ayat di atas mengajarkan kepada orang beriman jikalau dia terkena debu atau kemamasukan binatang yang sangat kecil di kelupuk matanya, hakikatnya itu berasal dari Allah. Yang menyebabkan ketidaknyamanan dan mengganggu fungsi mata walau sejenak, peristiwa tersebut akan dimaknai sebagai peringatan dari Allah. Selanjutnya seseorang tersebut akan mengunakan penglihatannya lebih hati-hati tidak digunakan untuk memandang hal-hal yang dilarang. Seraya sambil mengoreksi mungkin selama ini lupa matanya sering digunakan untuk melihat hal-hal yang maksiat.

Begitu pula sampai kapan keberadaan virus yang mewabah pandemi ini akan berada di alam dunia ini. Semua pakar bidang kesehatan kaliber dunia tidak ada yang tahu. Kecuali hanya prediksi saja.

Akhirnya, sambil menunggu keajaiban pertolongan Allah pandemi segera berakhir, sangat baik jika ujian ini dijadikan sebagai sarana muhsabah. Merenung atas segala kesalahan dan dosa sebagai individu, masyarakat, dan bahkan para pemimpin bangsa.

Permohonan ampun disertai ikhtiar dhahir menjaga kebersihan badan dan menjaga kebersihan batin. Makin mendekat kepada Sang Maha Penguasa. Dengan penuh keyakinan pertolongan Allah pasti datang. ”Setelah ada kesulitan akan datang kemudahan” (QS Al-Insyirah).

Leave a Reply

Your email address will not be published.