Enter your keyword

post

Membeli Parsel

Membeli Parsel

Oleh: Ust. Mim Saiful Hadi

Parsel identik dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri, yang dalam tradisi masa kecil saya disebut dengan ater-ater. Isinya berupa makanan dan jajanan. Aktivitas masyarakat ini telah membudaya secara turun-temurun hingga saat ini.

Istilah parsel bagi saya adalah kosa kata baru, yang tercatat dalam ingatan ketika sudah hidup di Kota Surabaya dan menjadi istilah lazim di kalangan masyarakat kota yang melekat dengan perayaan Idul Fitri. Demikian pula ater-ater pada masa kecil saya, secara sosiologis maknanya sama persis dengan dengan parsel, yakni pemberian kepada orang yang dihormati atau bentuk penghormatan pada saudara yang lebih tua menjelang Hari Raya Idul Fitri tiba.

Tetapi, seiring dengan perubahan zaman, pemberian parsel dari yang semula bentuk penghormatan dan tanda ikatan sosial, lama-kelamaan melebar bukan hanya sekadar bermakna refleksi social, tetapi menjadi aktivitas transaksional.

Bermakna transaksional karena yang terjadi adalah bawahan merasa berkewajiban memberikan kepada atasan atau pengusaha mengirim parsel kepada pejabat. Sesuatu yang dikirmkan semula wujudnya sesuatu yang sekadarnya menjadi sesuatu yang “wah”, entah berupa makanan, pakaian, barang pecah belah atau barang lain yang harganya tergolong mewah. Nilai parselnya berubah menjadi simbol status sosial seseorang.

Tuntunan agama kita sedemikian mulia bahwa memberi adalah perbuatan baik yang sangat dianjurkan, karena memberi bukan hanya menyenangkan orang yang menerima, tetapi juga menenteramkan hati orang yang memberi. Bahkan Allah SWT berjanji melipatgandakan pahala orang yang senang bersedekah atau memberikan kepada orang lain.

Saling memberi adalah perbuatan baik yang sangat dimuliakan. Hanya, yang menjadi masalah adalah apabila pemberian tersebut tidak lagi bertumpu pada esensi yang telah digariskan. Dalam pandangan agama, esensi saling memberi adalah ibadah sedang dalam konteks sosial sebagai wujud perekat kebersamaan antarwarga.

Apabila saling memberi sebagai aktualisasi ibadah, maka sudah jelas motif dan orientasinya tidak lain adalah karena menjalani perintah Allah SWT dan mengikuti contoh dari Nabi mulia, Rasulullah Muhammad SAW. Demikian pula halnya secara sosilogis pemberian tersebut tidaklah terikat pada apa dan berapa nominalnya sehingga setiap orang memberi terbebas dari hasrat untuk banyak-banyakan atau mahal-mahalan.

Pergeseran secara sosiologis inilah yang menggerus faktor esensial dari budaya saling memberi di antara masyarakat sehingga dalam keadaan tertentu bisa masuk dalam ranah hukum karena tergolong sebagai gratifikasi atau penyuapan. Dalam keadaan ini, orang yang memberi menjadi berpikir dan yang menerima menjadi khawatir sehingga kedaan sama sama tidak nyaman bila pada masa sebelumnya merasa senang berubah menjadi saling curiga dan penuh prasangka.

Tetapi, walau bagaimanapun rumitnya keadaan sekarang, saling mengirim parsel tetaplah menjadi tradisi yang layak untuk terus dipertahankan dengan tetap berpegang teguh pada esensinya. Sehingga dalam konteks ibadah tetap karena dan untuk Allah SWT. Sementara secara sosial tetap fokus untuk menjaga kekerabatan dan keguyuban antarwarga.

Tidak sulit menjaganya, yaitu dengan saling memberi terhadap saudara dekat, yakni tetangga di sekitar kita. Tanpa terbebani oleh persaingan satu sama lain, apa pun yang kita miliki atau yang mampu kita sajikan, bagikanlah pada tetangga kita agar tumbuh perasaan saling mencintai dan tetap terikat erat rasa persaudaraan di antara sesama kita. Wallahu a’lam bisshowab.

Leave a Reply

Your email address will not be published.