Enter your keyword

post

Memfilter Kemajuan Zaman dengan Pendidikan Akhlak

Modernisasi tak bisa dilepaskan dari fenomena globalisasi. Hal ini ditandai dengan pesatnya teknologi komunikasi informasi dan transportasi. Dampak dari kemajuan tersebut ialah perubahan massif dalam kebudayaan manusia.

Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi ini bisa membawa manfaat sekaligus juga hal yang kurang positif. Sebab, harus diakui, pada saat bersamaan umat Islam cenderung kurang mampu mengikuti perkembangan zaman. Apalagi jika ingin mengungguli bangsa lain dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengarahkan perubahan kehidupan ke arah yang lebih baik tentu saja tampaknya semakin sangat rumit.

Padahal, Islam sangat memperhatikan upaya menciptakan generasi Qurani (pandangan dan perilaku yang berbasis nilai Alquran), pribadi berkarakter, dan berkualitas. Generasi Qurani ini diharapkan tampil dengan kekuatan iman dan takwa, memiliki keterampilan, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, menuju pembumian
nilai Islam secara kaffah. Sesungguhnya, citacita ideal ini perlu diwujudkan sebagai upaya memenuhi tugas risalah, menyemai suburnya iman, membangun kekuatan budaya Islami dengan mengamalkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Di sisi lain, pengaruh lingkungan eksternal sangat besar. Termasuk pergaulan yang kurang kondusif serta dampak negatif teknologi komunikasi dan informasi. Akibatnya, peran orang tua dalam pelaksanaan pendidikan agama di dalam keluarga menjadi kurang maksimal. Efeknya, banyak terjadi pelanggaran moral dan akhlak manusia pun rusak hingga pada taraf mencemaskan. Pudarnya sikap dan tindakan terhadap nilai-nilai agama melahirkan fenomena pergaulan bebas, kejahatan sosial, narkoba, dan penyakit masyarakat lainnya.

Fenomena lain kehidupan umat Islam terutama dalam keluarga memang mencemaskan. Sebagian besar anak cenderung kehilangan perhatian dan kasih sayang dari orang tua karena sibuknya bekerja. Sebaliknya, orang tua kehilangan rasa hormat dan penghargaan dari  anak-anaknya. Dampak negatif teknologi modern (IT) terhadap degenerasi akidah dan akhlak umat Islam menjadi permasalahan yang perlu dipecahkan.

Solusi atas kondisi itu harus dicari agar pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi tidak dipertuhankan, lalu mengutamakan kemudahan hidup yang memberikan mudarat. Dalam pendidikan Islam, yang paling utama dan harus dapat perhatian besar adalah pendidikan akhlak. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh pakar pendidikan M. Athiyah alAbrasy, yakni pembentukan akhlak yang tinggi merupakan tujuan utama dari pendidikan Islam.

Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar yang diarahkan untuk mematangkan potensi fitrah manusia. Tujuannya, setelah tercapai kematangan itu, ia mampu memerankan diri sesuai dengan amanah yang disandangnya serta mempertanggungjawabkan pelaksanaan kepada Allah SWT. Kematangan di sini dimaksudkan sebagai gambaran dari tingkat perkembangan optimal yang dicapai oleh setiap potensi fitrah manusia.

Karena itu, keluarga menjadi kunci atau pemegang peran sentral dalam pendidikan akhlak. Ayah dan ibu wajib menanamkannya kepada anak sejak dini. Hal itu didasarkan kepada kebutuhan fitrah anak sebagai makhluk yang memiliki kecenderungan beragama secara hanif. Maka, pendidikan akhlak merupakan penanaman nilai-nilai akhlak yang terpuji dan menjauhi akhlak tercela dari kehidupan anak dalam keluarga.

Kemajuan zaman yang ditandai oleh kecanggihan teknologi merupakan keniscayaan di era seperti sekarang. Sebagai penemuan dan fakta empiris dari sunnatullah (hukum Allah), maka teknologi modern memiliki dampak positif dan negatif. Dampak negatif teknologi informasi perlu difilter melalui pemantapan akhlak mulia melalui pendidikan Islam terpadu dalam keluarga, sekolah dan masyarakat.

Apalagi, kehadiran agama Islam pada pokoknya membawa misi perbaikan dan penyempurnaan akhlak manusia. Agama Islam memberikan dengan lengkap tentang cara pembinaan akhlak dalam keluarga baik pembinaan akhlak orang tua maupun akhlak anak-anak mereka. Begitu pula agama Islam telah memantapkan dasar yang kokoh dalam pembinaan akhlak di rumah tangga dengan landasan tauhid sehingga menjadikan tauhid sebagai landasan dan sumber energi bagi akhlak keluarga.

Regenerasi umat harus dikawal dan dijamin kelangsungannya. Perlu dibangun kesadaran kolektif dan tindakan bersama membangun akhlak umat dan bangsa. Kebangkitan Islam mesti berbasis pada kekuatan generasi bertauhid. Hal tersebut dimulai dari keluarga bertauhid, sekolah/ madrasah bertauhid, dan bermuara kepada umat bertauhid.

Tentu saja yang bertauhid akan berakhlak mulia. Generasi bertauhid pula yang ibadah dan muamalahnya berbuahkan akhlak mulia (akhlakul karimah). Suatu generasi yang bertauhid yang dibentuk melalui pendidikan Islam terpadu membina pribadi-pribadi paripurna. Insya Allah. (eko)

Leave a Reply

Your email address will not be published.