Enter your keyword

post

Mengapa Al-Qur’an Menyebut Aib Orang?

Mengapa Al-Qur’an Menyebut Aib Orang?

Oleh: Prof. Dr. H. Moh. Ali Aziz, M.Ag.

Tanya:
Apakah ghibah (menggunjing atau menyebut aib orang) itu haram mutlak atau ada perkecualian? Sebab, Al-Qur’an juga berisi kisah kejelekan orang, yaitu Abu Lahab, Fir’aun, dan sebagainya.
FM – Surabaya

Jawab:
Nabi SAW bersabda, “Ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang tidak disukai saudaramu. Jika ia benar melakukannya, itulah ghibah. Dan jika tidak benar, itulah kebohongan yang kau buat.” (HR Muslim dari Abu Hurairah ra).

Aisyah ra bertanya kepada Nabi SAW, “Puaskah engkau dengan keadaan Shafiyah (binti Huyay, istri Nabi yang pendek)?” Nabi menjawab, “Sungguh, engkau mengucapkan perkataan yang andaikan dicelupkan ke air laut, akan berubahlah warna dan rasanya.” “Aku Aisyah) bercerita lagi tentang seseorang, dan Nabi SAW bersabda, “Aku tidak suka bercerita tentang seseorang meskipun aku diberi ini dan itu.” (HR Abu Daud dari Aisyah ra).

Ketika berpidato pada haji terakhir sebelum wafatnya, Nabi SAW mengingatkan bahwa semua muslim harus menjaga darah, harta, dan kehormatan sesamanya. “Apakah kalian semua siap menjadi saksi bahwa aku telah menyampaikan hal ini?” tambah Nabi di hadapan hadirin (HR Al Bukhari dan Muslim dari Abu Bakar ra).

Kekejian ghibah lebih keras lagi diingatkan dalam Al-Qur’an:
وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ
“Dan janganlah kamu menggunjing satu sama lain. Apakah seorang di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentulah kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Menerima Tobat dan Maha Pengasih” (QS Al-Hujurat [49]: 12).

Membaca ayat dan hadis-hadis di atas, jelaslah bahwa ghibah atau menggunjing dilarang keras. Sebab, hal itu merendahkan martabat seseorang. Dosa ghibah juga tidak akan diampuni Allah sebelum yang menjadi sasaran ghibah memaafkannya. Ghibah hanya diizinkan untuk tujuan-tujuan mulia, misalnya proses hukum demi tegaknya keadilan yang menjadi roh Islam. Kita boleh melaporkan keburukan orang ke polisi atau menceritakan keburukannya secara detail di pengadilan.

Ghibah juga diperbolehkan jika seseorang secara terbuka menunjukkan keburukannya kepada publik sehingga bukan rahasia lagi. Al-Qur’an menyebutkan kejelakan Fir’aun, Abu Lahab, dan sebagainya karena mereka melakukan kejahatan itu secara terbuka dan telah melampaui batas-batas kemanusiaan. Kejahatan itu diceritakan Al-Qur’an untuk memberi pelajaran, jangan sampai ada orang melakukan kejahatan yang sama.

Terakhir, kita juga boleh menyebut keburukan orang ketika kita tidak mampu menghentikan kejahatan sendirian. Maka, kita boleh meminta bantuan orang lain. Boleh juga ghibah di depan orang yang ahli untuk mencari solusi masalah, bukan dibuka secara umum. Juga tidak dilarang ghibah yang dilakukan secara internal secara tertutup untuk pertimbangan siapa saja yang layak diberi kepercayaan untuk jabatan tertentu. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published.