Enter your keyword

post

Mengejar Kemuliaan

Mengejar Kemuliaan

Oleh: Drs. KH Ali Muaffa, M.Ag.

Allah berfirman, ”…Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” (QS Al-Hujurat: 13).

Topik yang luar biasa penting dalam ayat ini adalah “orang yang paling mulia”.
Beraneka ragam yang dilakukan manusia dalam kehidupan ini untuk mengejar “cita-cita”, beragam pula tentang “cita-cita” yang mereka maksud. Mereka juga tidak bisa bersepakat tentang mana cita-cita yang terbaik dari yang mereka canangkan.

Mungkin keragaman tersebut juga tidak salah. Mengapa demikian? Setiap insan memiliki gambaran cita-cita hidup dengan redaksi yang berbeda sehingga akhirnya cita-citanya berbeda. Tetapi, bisa jadi perbedaan tersebut hanya dari sisi redaksinya, sedangkan hakikinya sama.

Apa pun keinginan insan, tetapi Allah telah menawarkan suatu strata tingkat tinggi kepada manusia, yaitu derajat “PALING MULIA”, tentu mulia di dunia dan mulia di ahirat nanti. Selanjutnya silakan ikuti kisah berikut ini.

Ada suatu acara akbar syukuran kelulusan sekolah seorang anak bernama si Fulan, yaitu putra dari seorang hartawan terkenal di suatu kota. Karena si hartawan mempunyai banyak jaringan dan pihak yang dikenal, maka undangan acara pun berasal dari masyarakat umum dan kalangan elite. Maklum, si kaya ini ingin memberikan penghargaan yang wah bagi satu-satunya putra yang dimiliki. Namun, pada titik tertentu hadirin yang sudah siap mengikuti acara menjadi bengong. Sebab, sekian lama menunggu acara belum juga dimulai, padahal tokoh-tokoh terkenal di kota itu sudah datang semua.

Didapat informasi bahwa acara akan dimulai jika seseorang yang ditunggu sudah datang. Hadirin cukup penasaran terhadap sosok tersebut. “Hadirin dimohon berdiri”, demikian ucap pembaca acara bergengsi memukau secara tiba-tiba. Hadirin pun tidak hanya berdiri, tetapi juga mencari tahu mana sosok yang dihormati tersebut. Hadirin saling memandang karena ternyata orang yang ditunggu kehadirannya itu dari tampangnya adalah orang yang sangat sederhana, bukan dari kalangan yang istimewa.

“Selamat datang Bapak Fulani di hari bahagia ini bersama keluarga besar kami,” tambah MC tersebut yang juga keluarga sohibul bait. Setelah dicari informasinya, orang yang kedatangannya ditunggu-tunggu itu memang bukan orang kaya, juga bukan pejabat tinggi dan sebagainya, tetapi orang biasa saja, yaitu seorang guru yang membuat putra si kaya menjadi putra yang berhasil meluluskan jenjang pendidikannya dengan memuaskan. “Ahlan wasahlan, selamat datang guru saya,” demikian kalimat awal yang disuguhkan si Fulan dalam sambutannya.

Selanjutnya dia mengatakan “Allah mengirim utusan yaitu guru saya Ustaz Fulani ini. Karena beliau, saya bisa membaca dan menulis Al-Qur’an. Karena beliau, saya bisa memiliki semangat tinggi mencari ilmu. Karena beliau, saya mengenal baik dan buruk. Karena beliau, saya terbimbing untuk berperilaku baik terhadap siapa pun terutama kepada ayah dan ibuku. Maka, izinkan saya mencium beliau di atas panggung kehormatan ini sebagai rasa syukur dan hormat saya…”

Tak bisa dibahasakan lagi isi hati dalam sambutan si Fulan tersebut kecuali hanya tangisan yang tak terhenti. “Ikhlaskan ilmumu hai guruku” hanya itu yang bisa diucapkan si Fulan di atas panggung. Si guru pun hanya bisa mengucap sepatah kata saja, “aamiin ya Allah”.

Selebihnya beliau memberi kado istimewa buat Fulan dalam rangkaian doanya: “Ya Allah cintailah, sayangilah muridku ini seperti Engkau menyayangi Nabi-Mu, muliakan dia di dunia dan ahirat nanti, takdirlah dia menjadi orang yang paling bertakwa kepada-Mu”.

Betapa terpukaunya hadirin saat itu melihat para aktor panggung. Tetesan air mata mereka menyeruakkan doa bersama, “aamiin ya Allah jadikan pula kami orang yang mulia di dunia dan mulia di ahirat seperti kemuliaan para nabi-Mu”.

Harus diingat bahwa yang hadir dalam acara ini terdiri atas orang kaya, pejabat tinggi, guru, murid, dan orang tua.

Maka, menjadi orang kaya, menjadi pejabat tinggi, menjadi guru, dan seterusnya sangatlah perlu dan sangatlah penting. Namun, yang lebih penting lagi jika insan menjadi orang kaya yang mulia, pejabat tinggi yang mulia, guru yang mulia, dan seterusnya, yang kemuliaan itu termaktub di dalam perilaku masing-masing sebagai perwujudan taatnya kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Lengkapilah beragam cita hidup ini dengan bangunan takwa dan taat kepada Allah. Sebab, orang yang paling takwa itulah orang yang paling mulia di sisi Allah (QS Al-Hujurat: 13).

Leave a Reply

Your email address will not be published.