Enter your keyword

post

MENGHITUNG ZAKAT PROFESI, JASA DAN ZAKAT FITRAH Oleh : Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA.

MENGHITUNG ZAKAT PROFESI, JASA DAN ZAKAT FITRAH Oleh : Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA.

Yang dimaksud profesi adalah suatu pekerjaan yang terkait erat dengan kemampuan dan keterampilan individu baik dilakukan secara personal maupun institusional, seperti dokter, arsitek, pengacara, pegawai, tentara dan sebagainya. Sedang yang dimaksud jasa adalah suatu pekerjaan yang terkait erat dengan kemampuan menyediakan fasilitas bagi keperluan orang banyak, seperti usaha perhotelan, rumah/kamar kontrakan, jasa transportasi darat,laut maupun udara dan sebagainya.

 Wahbah az-Zuhailiy berpendapat, bahwa penghasilan profesi ataupun jasa wajib dikenai zakat, bahkan untuk zakat profesi tidak perlu menunggu satu tahun. Hal ini didasarkan pada illat wajibnya zakat, yaitu pertumbuhan/ pertambahan, dan demi terwujudnya hikmah disyariatkannya zakat, serta mengikuti pendapat sebagian sahabat (Ibnu Abbas, Ibnu Mas‘ud dan Mu‘awiyah), sebagian tabi‘in (az-Zuhry, al- Hasan al-Bashry dan Mak-hul), Umar bin Abdul Aziz, al-Baqir, Dawud adh-Dhahiry dan lain-lain.

Sementara Yusuf al-Qaradawi berpendapat, bahwa orang yang berpenghasilan minimal sama dengan penghasilan petani yang wajib zakat, maka dia juga wajib zakat. Oleh karenanya, dokter, pengacara, insinyur, industriawan, para profesional dan pegawai yang berpenghasilan besar wajib mengeluarkan zakat. Tidak tergambarkan di akal, bahwa Islam mewajibkan zakat kepada petani dan membiarkan pemilik (persewaan) apartemen yang penghasilannya sepuluh kali lipatnya petani, atau dokter yang penghasilan seharinya boleh jadi sama dengan penghasilan petani dalam setahun. Pendapat ini bersandar pada pemahaman firman Allah SWT.: “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik, dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk lalu kamu nafkahkan darinya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (al-Baqarah 267)

Mengenai nishab (batas minimal harta kena zakat) zakat profesi dan jasa, jumhur fuqaha’ (mayoritas ulama ahli fiqih) berpendapat, bahwa harta halal yang dalam setahun mencapai nilai 90 gram emas, maka terkena wajib zakat 2,5%. Misalnya, harga emas itu Rp. 500.000, (limaratus ribu) per gram, maka penghasilan Rp. 45.000.000,- (empatpuluh lima juta) per tahun, sudah kena kewajiban zakat Rp. 1.125.000,- (satu juta seratus duapuluh lima ribu rupiah). Jadi orang yang berpenghasilan Rp. 3.750.000,- (tiga juta tujuh ratus limapuluh ribu rupiah) per bulan (45.000.000 : 12), sudah berkewajiban zakat.

Para fuqaha kontemporer, seperti Wahbah az-Zuhailiy berpendapat, bahwa zakat profesi dan jasa dapat dilakukan ta’jiiluz zakaah (dipercepat pembayarannya), misalnya tiap bulan atau tiap kali menerima penghasilan. Agar mudah menghitungnya, maka tiap Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah), zakatnya Rp. 25.000,- (duapuluh lima ribu rupiah).

Zakat Fitrah

Zakat fitrah adalah zakat yang wajib dibayar oleh setiap muslim setelah bulan Ramadan berakhir, baik laki-laki, perempuan, dewasa, anak-anak, orang merdeka maupun hamba sahaya. Zakat fitrah disyariatkan untuk menyucikan jiwa orang-orang yang berpuasa, sekaligus memberi makan orang-orang miskin dan mencukupi kebutuhan mereka di hari raya (Idul Fitriy). Hal ini didasarkan pada makna hadis Rasulullah SAW: ”Zakat fitrah difardlukan sebagai penyuci jiwa orang-orang yang berpuasa dari perkataan bohong dan jelek, dan memberi makan orang-orang miskin…” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah dan al-Hakim dari Ibnu Abbas).

Orang yang diwajibkan membayar zakat fitrah adalah orang yang mempunyai kelebihan harta dari kebutuhan pokoknya minimal satu sha’ bahan makan pokok, berdasar hadis yang diriwayatkan al-Jamaah: ”Kami mengeluarkan zakat fitrah pada masa Rasulullah SAW ada bersama kami, satu sha’ makanan, atau satu sha’ kurma, atau satu sha’ gandum…”. Mengenai berapa kadar 1 sha’ ini para fuqahaa’ (ulama ahli fiqih) berbeda pendapat. Fuqahaa’ Hanafiyyah berpendapat bahwa kadar zakat firah adalah 3,8 kg. Sedang fuqahaa’ Malikiyyah, Syafi’iyyah dan Hanabilah menetapkan bahwa kadar zakat fitrah itu 2,75 kg. Ada juga segolongan fuqahaa’ Syafi’iyyah dan Hanabilah yang menetapkan, bahwa 1 sha’ itu adalah 2,304 kg (dibulatkan 2,5 kg). Mencermati perbedaan persepsi dan kadar 1 sha’ maka menurut saya sebaiknya diambil jalan tengah yang mudah dan bulat, yakni 3 kg. Jadi ke depan, sebaiknya kadar zakat fitrah itu adalah 3 kg beras (sebagai makanan pokok bangsa Indonesia).

 

Bolehkah membayar zakat fitrah dengan uang, tidak dengan makanan pokok sebagaimana tersebut dalam hadis? Fuqahaa’ Hanafiyyah menyatakan, bahwa zakat fitrah boleh dibayar dengan uang, karena tujuan utama zakat fitrah adalah memenuhi kebutuhan mereka yang berhak menerimanya, dan hal itu bisa terpenuhi dengan uang. Pendapat ini didasarkan pada makna hadis Rasulullah SAW : ”Penuhi kebutuhan mereka pada hari ini (Idul Fitriy)” (HR al-Bukhariy). Sedang menurut jumhur fuqahaa’ (mayoritas ulama ahli fiqih), zakat fitrah harus dibayar dengan makanan pokok setempat, dan tidak sah jika dibayar dengan uang. Hal ini disandarkan pada makna hadis shahih yang diriwayatkan al-Jamaah: ”Kami mengeluarkan zakat fitrah pada masa Rasulullah SAW ada bersama kami, satu sha’ makanan, atau satu sha’ kurma, atau satu sha’ gandum…”. Mencermati kondisi social saat ini, maka pendapat fuqahaa’ Hanafiyyah yang membolehkan pembayaran zakat fitrah dengan uang terasa lebih tepat, mengingat fleksibelitas uang untuk kebutuhan apapun, karena kebutuhan orang di hari raya itu bukan hanya makanan pokok, tetapi juga pakaian, lauk pauk, ataupun kebutuhan pokok lainnya, yang lebih mudah terjangkau dengan uang. (Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, MA.

Leave a Reply

Your email address will not be published.