Enter your keyword

post

Menyikapi Musibah

Menyikapi Musibah

Oleh: Drs. KH Ali Muaffa, M.Ag.

Merupakan sunnatullah bahwa perjalanan kehidupan manusia memiliki liku-liku yang sedemikian rupa. Setiap insan mengalami kisah laku hidup yang mungkin berbeda antara satu dan yang lainnya.

Liku kehidupan itu memiliki bobot nilai yang berlevel dan bertitel sesuai subjektivitas masing-masing insan. Ada manusia yang memberi lebel lagunya kehidupan, masalah atau problem kehidupan, sampai musibah dalam kehidupan. Pemberian lebel yang berbeda tersebut terkait dengan subjektivitas dan kondisi yang mengalami. Perbedaan ini juga akan membawa perbedaan dalam menghadapi dan menyikapinya.

Bagi yang memberi lebel ”lagunya kehidupan”, ia menyikapi liku kehidupan dengan ringan dan biasa-biasa saja karena dia yakin bahwa liku-liku tersebut adalah hal biasa yang wajar terjadi pada setiap kehidupan manusia. Implikasinya, manusia tersebut tidak memiliki beban. Dia tetap melenggang bekerja, beramal, dan berbuat seperti yang biasa terjadi. Manusia seperti ini tidak jarang penuh rasa syukur kepada Allah karena di dalam kehidupannya merasa tidak pernah mendapat tantangan masalah berarti. Apalagi jika dia melihat orang yang lebih susah daripada dirinya.

Bagi yang memberi lebel masalah atau problem kehidupan, dia menyikapi dengan berusaha keras mengatasi masalah sampai dirasakan bahwa problem atau masalah tersebut sudah tidak terasa menjadi masalah. Implikasi dalam kehidupannya, orang seperti ini menyadari bahwa yang dihadapi benar-benar problem serius dan dicari jalan keluarnya. Kerja keras dan kehati-hatian merupakan salah satu dampak positif yang menjadi hikmah dalam hadirnya problem kehidupan. Jika sikap ini dilakukan secara baik, hikmah baru yang diperoleh adalah kemajuan dari sebelumnya.

Bagi yang memberi lebel musibah, dia akan berusaha secara luar biasa serius. Konsep Al-Qur’an surat Al Hasyr ayat 18 akan dilakukan dengan baik, yaitu mencari penyebab dan sumber terjadinya musibah. Dimulai dari evaluasi diri, perbaikan diri, dan memproyeksikan diri ke depan lebih baik lagi.

Apa pun cara manusia melevelkan musibah kehidupan tersebut, yang jelas mereka menginginkan bahwa yang terjadi adalah yang terbaik. Karena itu, tentang cara menyikapi segala bentuk masalah dan musibah tersebut, Allah SWT memberikan bekal, antara lain:

  1. Kita harus tampil yang terbaik.
    Surat Al Mulk ayat 2 mengisyaratkan dengan jelas bahwa lagu atau problem kehidupan merupakan ujian dari Allah. Siapa yang dapat menyikapi secara baik, dialah manusia yang terbaik amalnya. Di antara sikap yang baik adalah khusnuzan (berbaik sangka kepada Allah), menyadari sepenuhnya bahwa Allah sedang menguji untuk menaikkan derajat dan pangkat seseorang. Kesadaran ini akan menimbulkan optimisme tinggi karena manusia merasa sedang masuk pada masa ujian dan pasti akan ada masa kenaikan. Kenaikan derajat amat menjanjikan dan menjadi motivasi tersendiri bagi manusia. Motivasi ini akan menutupi dan menghilangkan nilai musibah ”sebagai musibah belaka” dan menghadirkan nilai ”musibah sebagai promosi kenaikan derajat”.
  2. Kita harus sabar tiada batas.
    Di dalam surat Al Baqarah ayat 154-157 diajarkan bahwa musibah merupakan cobaan yang harus disikapi dengan sabar. Kreteria sabar adalah kondisi saat manusia bersikap mengembalikan semua yang terjadi kepada Allah SWT dengan mengucapkan istirja’ ”Inna lillahi wa innaa ilaihi raji’uun”. Istirja’ adalah kalimat yang memuat pernyataan seseorang bahwa dirinya dan semuanya berasal dari Allah. Yaitu, kita ada karena kehendak Allah dan kita semua akan kembali kepada-Nya. Semua adalah amanah dan titipan Allah, serta suatu saat akan kembali kepada-Nya. Lantunan kalimat istirja’ yang diucapkan dari lubuk hati yang amat dalam serta pemahaman arti yang mendalam akan menghadirkan kepasrahan, keikhlasan, ketaatan, dan kebahagiaan kepada Allah yang sangat tulus. Sedalam mana manusia mampu melantunkan dan memaknai kalimat istirja’, maka sejauh itulah manusia memperoleh nilai. Karena itulah, ada manusia yang ketika mendapat musibah hanya dapat gelisah, namun ada pula yang ikhlas. Bahkan, ada yang justru merasa bersyukur seperti ucapan manusia, ”Alhamdulillah cobaan yang menimpa saya hanya sekian dibandingkan si fulan yang sedemikian besar cobaannya.”

Arti dan pengertian musibah (yang disebut 10 kali di dalam Al-Qur’an) memang sangat menakutkan. Musibah memiliki arti bahaya, celaka, bencana, dan bala. Menurut Al Qurtubi, musibah ialah apa saja yang menyakiti dan menimpa orang mukmin atau sesuatu yang berbahya dan menyusahkan manusia meskipun kecil.

Namun, manusia yang memiliki keluarbiasaan dalam menyikapi musibah seperti di atas akan menghadirkan ridha Alloh SWT. Dalam ayat tersebut, Allah secara khusus mencurahkan keberkahan dan rahmat-Nya kepada orang yang sabar di dalam menghadapi musibah. Bersama kajian Nurul Falah, semoga kita mendapat keberkahan Allah SWT.

Leave a Reply

Your email address will not be published.