Enter your keyword

post

Buah Nangka

Buah Nangka

Oleh: Ust. Mim Saiful Hadi

Sering sekali saya melintasi rute Surabaya-Batu pulang pergi, sedikitnya dua kali sebulan. Lima kilometer sebelum masuk pintu tol Singosari-Malang, ada pemandangan yang selalu hadir sepanjang musim, yaitu pedagang buah nangka yang berjajar di pinggir jalan.

Para pedagang dalam menjajakan buah dagangannya dikelompokkan menjadi tiga macam. Pertama, buah nangka yang masih utuh, kedua buah nangka yang sudah dibelah separo, sepertiga atau seperempat, dan yang ketiga buah nangka yang sudah dikupas, dijual bijian dibungkus dengan plastik mika bening.

Harga buah nangka yang utuh lebih mahal dibanding yang sudah dibelah. Buah nangka yang sudah dikemas dijual dengan harga sepuluh ribu atau dua puluh ribu.

Pesona buah nangka tidak pada kulit luarnya, meski duri pada kulitnya tidak setajam buah durian, tetapi corak kulitnya seringkali tidak semenarik buah durian yang bersih dan merona, padahal rasa manisnya sangat kuat dan aromanya tidak bisa disembunyikan, kuat menyengat.

Maha Suci Allah SWT yang telah mengajari manusia dengan ilmu, di muka bumi dan seantero alam raya Allah SWT telah banyak menebarkan ibrah yang memberikan gambaran untuk menjadi pelajaran bagi kita semua dalam menjalani setiap jengkal kehidupan, termasuk di antaranya Allah SWT menciptakan buah nangka.

Buah nangka memberi pelajaran sangat berharga kepada kita bahwa jangan mudah terpesona oleh tampilan luar. Memesona di luar memang perlu, tetapi pesona dari dalam diri sesungguhnya lebih menentukan tingkat keterpesonaan yang akan diraih oleh seseorang.

Sepasang pengantin muda yang cantik jelita dan gagah perkasa, keduanya akan sangat bersuka cita menikmati masa awal penikahannya. Keduanya saling memuji dan menyanjung. Tetapi, setelah masa suka citanya usai, masuk pada “dunia dalam”, kepuasan hidupnya memasuki fase tidak lagi pada pujian dan tampil luaran. Keduanya mulai merasakan pahit getirnya dan susah sulitnya kehidupan.

Bila datangnya senang dari ketinggian ilmu, maka kesusahan akan datang dari fitnahnya ilmu. Bila kesenangan munculnya dari harta, maka kesusahan akan datang dari harta. Jika kesenangan datang dari fisiknya pasangan, maka dari situ pula kesulitan akan datang menimpa. Jika kesenangan muncul dari jabatan dan kedudukan, maka dari situ pula munculnya kesedihan.

Rasa kagum satu sama lainnya tidak cukup untuk menghadapi rasa kecewa yang pasti akan datang kemudian. Rasa kecewa antara suami dan istri akan datang seiring dengan usia dan pondasi hubungan yang ditanam di awal. Rasa kagum jika sudah habis, yang menggantikan adalah rasa kecewa. Dan adanya rasa kecewa yang mendorong munculnya beragam tuntutan-tuntutan antara keduanya. Jika pondasi pernikahannya keropos, maka rumah tangga yang runtuh berkeping-keping merupakan hal mudah yang akan terjadi.

Kita sulit memahami sepasang suami istri yang sudah menikan puluhan tahun, melahirkan sejumlah anak, pesona cantik dan gantengnya telah memudar, tetapi putus juga hubungannya. Mereka rela mengubur masa indah puluhan tahun yang telah dilewati dan mereka tega memaksa anak-anak menelan kekecewaan yang sangat berat sepanjang hidupnya.

Buah nangka yang sudah dikupas, dipisahkan dengan isinya, dibersihkan dari getahnya dihargai lebih murah daripada buah nangka yang masih berbalut kulit dan bersimbah getah. Kesiapan kita untuk menyatu dengan berbagai kesulitan dan kemudahan dalam hidup menjadi penentu seberapa besar kebahagiaan dan kesuksesan hidup yang berhasil kita raih.

Tampak luar tidak selalu dipenuhi warna indah memesona. Demikian pula halnya bagian dalam, tidak juga hanya berisi bagian yang manis, tetapi yang pahit dan keras, menyatunya semua bagian tersebut menjadikan buang nangka memiliki rasa yang manis dan aroma yang harum.

Semoga Allah SWT menguatkan cinta kita dalam guncangan hidup yang menerpa kita, menghadapi tahun 2021 dengan sabar dan istiqamah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.