Enter your keyword

post

Pentingnya Memperdalam Ilmu Pengetahuan dan Ilmu Agama

Pentingnya Memperdalam Ilmu Pengetahuan dan Ilmu Agama

Oleh: Drs. KH Ali Muaffa, M.Ag.

Agama Islam yang disebarkan Nabi Muhammad SAW sangat menjunjung tinggi kedudukan ilmu pengetahuan dalam kancah kehidupan manusia. Karena itu, wahyu pertama yang disampaikan kepada baginda Nabi SAW adalah semangat mencari ilmu pengetahuan. Tidak hanya itu, bahkan menggali ilmu pengetahuan tersebut harus dilandasi dengan tujuan dan nilai yang agung sehingga memberikan manfaat yang besar untuk kehidupan di dunia ini dan kelak di akhirat.

Seluruh aspek kehidupan manusia membutuhkan bekal yang dinamakan ilmu pengetahuan. Salah satu pesan terkait ilmu, Nabi SAW berpesan yang maknanya “Mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap orang Islam pria dan wanita. Orang yang mencari ilmu itu akan dimintakan ampun oleh setiap sesuatu yang ada di muka bumi ini sampai ikan-ikan yang berada di lautan”. (HR Thabrani).

Karena itu, sangat tepat telah diajarkan kepada kita bahwa siapa saja yang ingin sukses “dunia ahirat”, maka syarat utama adalah harus ada ilmu untuk itu.

Islam adalah agama yang menjadi pelopor dalam mendidik agar manusia memiliki kriteria ber”ilmu” sebagai seorang pemimpin di muka bumi. Allah menginformasikan beberapa hal penting.

  1. Al-Qur’an surah At-Taubah ayat 122 mengajarkan bahwa dalam kondisi tertentu umat ini harus berbagi tugas. Termasuk harus ada yang bertugas mencari ilmu serta menyampaikan hasilnya kepada sebagian umat yang tidak sempat mencari ilmu disebabkan sedang bertugas pada lini yang lain.
  2. Allah memberitahu kepada malaikat bahwa Allah akan mengangkat manusia sebagai pemimpin di muka bumi. Yang menarik, pemimpin tersebut harus memiliki kompetensi (ilmu) yang memadai sebagai seorang pemimpin. Maka, Allah-pun memberikan ilmu pengetahuan yang memadai kepada Nabi Adam as sebagai bekal dalam memikul amanah menjadi pemimpin dan pengelola alam raya ini demi kesejahteraan manusia dunia dan akhirat.
  3. Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW bernuansa mencari ilmu pengetahuan dengan perintah membaca. Oleh sebab itu, perintah membaca di sini tentu tidak hanya dimaknai sebatas membaca teks belaka, tetapi juga membaca lembaran alam semesta nan luas, membaca tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran Allah SWT, membaca apa yang ada pada diri kita, membaca sifat dan karakter manusia, membaca segala keadaan, membaca kekayaan maupun kemiskinan, dan seterusnya.

Maka, ayat ”Iqra” pada wahyu yang pertama tersebut mewajibkan kita untuk menjauhkan diri dari kebodohan dengan belajar dan mencari ilmu pengetahuan yang mampu membawa kepada perubahan positif bagi kehidupan manusia.

Dalam buku Tafsir Fi Zhilal Al-Qur’an, Sayyid Qutb rahimahullah memantapkan penjelasannya bahwa dengan semangat ayat pertama inilah Rasulullah SAW membaca dan memulai perjuangannya menuju perubahan dunia menjadi rumah yang penuh limpahan rahmat dan berkah dari Allah SWT.

Dari tiga hal tersebut, sangat jelas bahwa Islam mendudukkan ilmu sebagai kebutuhan penting di dalam membangun kehidupan dunia, bangsa dan negara yang maju, yang baik, yang berakhlak, dan yang membahagiakan. Ini sebagaimana difirmankan Allah SWT dalam surah Saba ayat 15, yaitu mewujudkan negeri yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghafur, sebuah konsep yang disematkan pada negeri Saba’ yang ada dalam kenikmatan dan kebahagiaan, kelapangan rezeki berupa tanaman dan buah-buahan.

Ibnu Katsir menyebut bahwa negeri Saba’ sama sekali tidak ada lalat, nyamuk, kutu, dan hewan-hewan yang berbisa. Sebab, cuaca yang baik dan alam yang sehat, Allah menjaganya. Hal ini karena Saba’ mengikuti jalan Allah untuk selalu bersyukur dan beribadah. Namun, dikemudian hari mereka berpaling dari jalan Allah. Maka, Allah menghukumnya. Negeri makmur nan indah itu pun mendadak lenyap karena disapu banjir bandang yang menghancurkannya.

Ilmu yang dimiliki bangsa Saba’ dalam membaca kekayaan tidak lagi dilandasi asma Allah sehingga kebaikan dan kebahagiaan menjadi sirna. Maka, kecanggihan teknologi dan kekayaan materi suatu negeri tidak menjamin bahagia. Justru ilmu berbasis Ilahiyah yang mengajarkan kebersamaan dengan ridha Allah adalah menjamin semuanya. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published.