Enter your keyword

post

Peran Cendekiawan Muslim dalam Menangkal Hoax

Peran Cendekiawan Muslim dalam Menangkal Hoax

Oleh: Dr. KH Umar Jaeni, M.Pd.

Kosa kata hoax pada beberapa tahun terahir ini sangat populer. Dalam dunia persulapan kata hoax konon sudah dikenal sejak abad ke-18 yang lalu. Asal katanya adalah hocus. Artinya mengelabui.

Pekerjaan itu sangat lumrah dilakukan dalam atraksi sulap atau magic. Makna hoax terus berkembang seiring perjalanan waktu. Saat ini hoax berarti berita bohong. Yaitu informasi yang tidak benar direkayasa seolah-olah benar. Akibatnya, situasi menjadi kacau, masyarakat bimbang dalam bertindak, bahkan menolak dan tidak memercayai keadaan yang sebenarnya.

Dalam praktik kehidupan sehari-hari, hoax sudah ada sejak adanya manusia. Nabi Adam as tergusur dari surga ke alam dunia gara-gara hoax. Makhluk yang bernama jin atau setan berhasil mengembuskan kabar bohong. Nabi Adam bimbang dengan adanya informasi yang dikemas sangat baik oleh jin. Seolah-olah kabar yang disampaikan oleh jin itu benar dan sangat rasional. Padahal, Nabi Adam semula berkeyakinan sangat kuat bahwa memakan buah khuldi itu merupakan larangan dari Tuhannya. Namun, pendirian nenek moyang manusia itu kemudian goyah karena termakan hoax.

Pada masa Nabi Muhammad SAW, hoax juga benyak berkeliaran. Dalam suatu peristiwa, Abdullah bin Ubay bin Salul pembuat berita bohong yang sempat menggoyahkan kaum muslimin serta keluarga Rasulullah. Abdullah bin Ubay bin Salul membuat berita bohong dengan menuduh Aisyah, istri Rasulullah SAW, berbuat asusila. Saking santernya berita bohong itu, sampai-sampai Allah yang mengklarifikasi seperti dimuat dalam surat An Nur ayat 11.

Berita bohong juga menerpa pada diri Nabi Muhammad. Ada sebagian orang yang membuat berita bohong yang disandarkan atas nama Muhammad Rasulullah. Mereka membuat hadis palsu. Membuat berita yang seolah-olah dari Nabi SAW, padahal dibuat untuk kepentingan sendiri.

Di era perkembangan teknologi informasi yang dahsyat ini, arus tersiarnya hoax semakin deras. Penyebarannya lebih cepat dan menjangkau sangat luas. Ditangkap oleh masyarakat lintas wilayah, etnis, strata sosial, dan agama.

Hoax sangat menyesatkan, merugikan berbagai pihak. Merusak tatanan kehidupan, antar sesama bisa saling curiga iri dan dengki. Membuat sengsara bagi yang terkana sasaran atau sebagai korban.

Dalam pandangan Allah, hoax bukan masalah ringan dan sederhana, tetapi masalah besar dan sangat serius. Karena itu, pelakunya akan mendapat azab yang besar (QS An-Nur: 11-18). Dan orang yang mengada-ngadakan hoax bukan termasuk orang yang beriman kepada ayat-ayat Allah (QS An-Nahl: 105).

Rasulullah SAW juga mengancam sangat keras kepada para pelaku pembuat berita bohong. Dari ‘Ali, ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah SAW, “Janganlah kamu berdusta atas (nama)ku karena sesungguhnya barangsiapa yang berdusta atas namaku, maka pasti ia masuk neraka” (Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Ahmad, dan lainnya).

Sedemikian keji dan berbahayanya hoax dalam kehidupan, Al-Qur’an memberikan panduan yang sangat kritis, analitis, dan antisipatif. “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” (QS Al-Hujurat: 6).

Surat Al Hujurat di atas jelas merupakan pekerjaan intelaktual. Seorang muslim ketika menerima informasi yang datang tidak boleh langsung diterima begitu saja atau malah disebarkan ke mana-mana. Kita harus melibatkan akal, pikiran, perasaan yang harus dianalisis terlebih dahulu dan dikonfirmasikan kepada pihak-pihak yang kompeten.

Mengingat betapa sulitnya menyaring berita-berita yang dapat diyakini dengan valid, peran cendekiawan muslim sangat diperlukan. Seorang cendekiawan memiliki kelebehan ilmu dan kearifan sehingga pandangan dan kepekaannya jauh ke depan melampui masyarakat pada umumnya. Keahlian yang dimiliki itu sangat diperlukan untuk mencerahkan masyarakat agar tatanan kehidupan lebih marhamah, penuh kasih sayang dan saling menghormati.

Semoga para cendekiawan yang memiliki dedikasi, karakter, dan keimanan yang kokoh dalam mencermati situasi dan keadaan akan diberikan balasan amal zariyah di sisi Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.