Enter your keyword

post

Perawatan Jenazah karena Covid-19

Perawatan Jenazah karena Covid-19

Oleh: Prof. Dr. Ahmad Zahro, M.A.

Para fuqaha’ (ulama ahli fiqih) sepakat bahwa dalam syariat Islam ditetapkan empat hal yang wajib secara kifayah (perwakilan) dilakukan oleh kaum muslimin terhadap jenazah orang Islam, yaitu memandikan, mengkafani (membungkus dengan kain kafan), mensalati, dan menguburkan. Hal ini didasarkan pada beberapa makna hadis Nabi SAW, antara lain sebagai berikut: 

1.            Sabda Nabi SAW terkait dengan sahabat yang wafat karena jatuh dari ontanya: “Mandikan dia dengan air dan daun bidara, serta kafanilah dengan pakaiannya” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

2.            Nabi SAW memerintahkan untuk mensalati jenazah bayi keguguran, jenazah anak-anak, dan beliau juga mensalati an-Najasyi (HR Jamaah dari Ibnu Abbas).

3.            Nabi SAW menguburkan jenazah para sahabat di Baqi’ (Hadis sahih mutawatir/aklamatif).

Oleh karena itu, semua umat Islam harus tahu dan mengerti bahwa dalam keadaan normal, jenazah kaum muslimin itu harus dirawat sesuai prosedur empat hal pokok tersebut. Tetapi, jika kondisi tidak normal, seperti jenazah korban tsunami beberapa tahun lalu, prosedur tersebut bersifat opsional, mana yang memungkinkan untuk dilaksanakan. Hal ini didasarkan pada kaidah ushul fiqih yang amat populer: “Adl-Dlaruuraatu tubiichul machdhuuraat” (keadaan darurat itu menyebabkan bolehnya dilakukan hal-hal yang dilarang). Yang dimaksud keadaan darurat yang meperbolehkan dilakukannya hal-hal yang mestinya dilarang adalah keadaan sangat terpaksa yang apabila dibiarkan akan terjadi mudarat, bahaya, atau bahkan kematian.

 Ada beberapa pertanyaan terkait perawatan jenazah Covid-19:

1.            Bolehkah memercayakan perawatan jenazah Covid-19 pada rumah sakit (RS)?

Jika diyakini bahwa RS tersebut memiliki tenaga khusus yang mengerti tata cara perawatan jenazah secara Islam, seperti semua RS milik umat/ormas Islam, maka boleh perawatan jenazah dipercayakan pada RS. Begitu juga terhadap RS milik pemerintah, walau sebaiknya pihak keluarga jenazah mengirimkan ahli agama untuk mendampingi perawatan jenazah tersebut.

Tetapi, jika RS itu milik umat/ormas non-Islam, maka tidak boleh memercayakan perawatan jenazah pada RS dan seharusnya seluruh umat Islam tahu bahwa menyerahkan perawatan pasien muslim kepada RS non-muslim hukumnya haram, kecuali darurat.

2.            Bagaimana kalau ternyata jenazah tidak dikafani?

Jika kemudian diketahui bahwa jenazah tidak dikafani, apabila kondisinya masih memungkinkan untuk dikafani, maka wajib dikafani secara pantas, kemudian disalatkan karena secara kuat patut diduga bahwa jenazah tersebut juga belum disalatkan. Tetapi, jika kondisi jenazah sudah tidak memungkinkan untuk dikafani karena sudah membusuk dan mengelupas misalnya, maka tidak harus dikafani karena darurat, melainkan cukup disalatkan dan dikuburkan.

3.            Bolehkah membongkar kuburan karena curiga, bahwa perawatan jenazahnya tidak Islami?

Hukum asal membongkar kuburan itu haram karena bisa menodai kehormatan mayat dan tidak ada tuntunan dari Nabi SAW, kecuali jika keadaan dianggap darurat. Tetapi, seharusnya kecurigaan itu sebelum dikuburkan. Kalau sudah terlanjur dikuburkan, menjaga kehormatan mayat harus lebih diutamakan daripada tuntutan kecurigaan yang sifatnya belum pasti. Hal ini didasarkan pada kaidah ushul fiqih: “al-Yaqiin laa yuzaalu bisy syakki” (keyakinan itu tidak boleh dikalahkan oleh keraguan).

 4.      Bolehkah memakamkan jenazah orang Islam dengan peti yang tidak dibuka?

Semua fuqaha’ berpendapat bahwa pemakaman jenazah orang Islam dengan peti itu hukumnya makruh (tidak disukai) atau bahkan haram (dilarang) karena pemakaman demikian itu adalah tradisi Nasrani dan kita dilarang mengikuti tradisi mereka. Tetapi, jika dalam keadaan darurat karena khawatir tersebarnya virus misalnya, maka diperbolehkan. Bagaimana jika peti itu tidak dibuka? Apabila kondisi menuntut untuk tidak dibuka, atau jika diyakini bahwa kalau dibuka akan menimbulkan bahaya, maka boleh tidak dibuka karena darurat.

 5.      Bolehkah jenazah tidak dihadapkan kiblat?

Semua fuqaha’ sepakat bahwa di dalam liang lahat itu jenazah harus dihadapkan kiblat. Hal ini didasarkan pada apa yang dilakukan Nabi SAW ketika memakamkan para sahabat. Yang demikian itu jika keadaan normal, memungkinkan untuk itu. Tetapi, jika keadaan tidak normal alias darurat tidak memungkinkan untuk menghadapkan jenazah ke kiblat, seperti pemakaman di laut, penguburan ratusan ribu jenazah korban tsunami, atau pemakaman jenazah Covid-19 karena tidak memungkinkan membuka petinya, maka diperbolehkan memakamkan jenazah tanpa menghadapkan ke kiblat, karena darurat.

 Wallaahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published.