Hijab sebagai Identitas Muslimah Berakhlak Mulia

25 July 2022 Eko Prasetyo 57 DIBACA Hikmah

Eko Prasetyo

Salah satu penulis muslimah, Ummu Abdillah al-Wadi’ie, dalam buku Nisaa’ berkata bahwa sesungguhnya persoalan tabarruj (mempertontonkan aurat) bukan masalah ringan. Sebab, hal itu tergolong dosa besar.

 

Dalam Islam, Allah sudah mengatur dan memberikan batasan-batasan bagaimana seorang muslim dalam berpakaian. Terutama bagaimana seorang muslimah berbusana. Islam memberikan batasan-batasan dan penjelasan bahwa aurat seorang lelaki adalah antara pusar dan lutut. Sementara aurat perempuan itu mencakup seluruh tubuh dari ujung rambut sampai ujung kakinya, kecuali wajah dan telapak tangan.

 

Allah berfirman di dalam Alquran, ”Katakanlah kepada perempuan yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya (auratnya) kecuali yang biasa tampak daripadanya. Dan hendaklah menutupkan kain kerudung hingga batas dadanya. Dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya) kecuali kepada suami mereka…” (QS An-Nur [24]: 31).

 

Nabi Muhammad SAW sendiri juga menganjurkan perempuan agar berhijab, menutupi aurat, dan tidak berpakaian tipis. Nabi SAW bersabda, ”Terdapat dua penyebab yang menghancurkan umatku. Pertama adalah emas (perhiasan-perhiasan) dan kedua adalah pakaian-pakaian tipis dan menampakkan tubuh”. 

 

Dari ayat dan hadis di atas, sangat jelas bahwa Islam amat memuliakan perempuan hingga ia mengatur bagaimana muslimah berpakaian. Islam memahami bahwa sesuatu yang tertutup lebih steril dan aman daripada yang terbuka. Islam juga mengetahui bahwa sesuatu yang diobrak terkesan murahan dan tak bernilai. 

 

Sungguh Islam adalah agama yang indah dan penuh perhatian. Bahkan, dalam kesendirian seorang perempuan muslimah dianjurkan untuk senantiasa menutup aurat. (redaksinf)

Related News