Mencetak Muslim Unggulan

7 July 2022 Drs. KH Ali Muaffa, M.Ag. 56 DIBACA Kajian Kontemporer

Drs. KH Ali Muaffa, M.Ag.

Kaum muslim unggulan maknanya adalah kaum muslimin yang keberadaannya sesuai dengan kehendak penciptaannya, yaitu ”untuk beribadah dan menjadi khalifah”. Unggul berarti memiliki kelebihan yang dibutuhkan dengan tujuan penciptaan tersebut. Pribadi unggul sebagai hamba Allah berarti manusia memiliki loyalitas ketaatan ber-ta’abbud menghambakan diri kepada Allah. Sementara pribadi unggul lainnya adalah manusia memiliki kemampuan dan kejujuran melakukan amanah Allah sebagai khalifah (pemimpin di dunia) dalam memakmurkan dunia dengan tujuan rahmatan lil’alamin.


Diangkatnya manusia sebagai khalifah oleh Allah merupakan kehormatan sekaligus tantangan. Merupakan kehormatan karena amanah sebagai khalifah bisa menjadi gengsi (dalam arti poisitif) sekaligus menjadi peluang beramal saleh dengan membuat sistem kehidupan dunia ini terbentang luas bagi manusia. Martabat dan derajat ini tidak sembarangan diamanahkan kepada semua makhluk. Malaikat pun (yang sangat taat kepada Allah) juga tidak terpilih menjabat sebagai khalifah ini. Maka, malaikat pun semacam ada tanda-tanda berkenan menjadi khalifah di muka bumi meski ternyata Allah tidak memilihnya.


Jabatan khalifah fil ardl ini juga dikatakan sebagai tantangan amat berat karena manusia dituntut untuk bisa me-manage dunia ini demi kepentingan maslahat rahmatan lil ‘alamin. Dan kita tahu bahwa yang akan dihadapi manusia tidak hanya masalah karakter yang berbeda, namun juga soal egoisme dan merasa paling benar, paling besar, paling kompeten, dan lain-lain di antara manusia satu dan lainnya. Dikatakan berat karena manakala amanat ini tidak terlakana dengan baik dan benar, apalagi jika manusia melakukan kesalahan dan pendustaan terhadap ketentuan Allah, maka yang diperoleh bukan pahala dan kehormatan lagi, melainkan siksa dan kehinaan di hadirat Allah. Karena itu, di sisi lain manusia mendapat laqab (sebutan) ”sebagai mahluk yang dhaluan jahula, artinya semacam tidak menyadari bahwa amanat yang diemban  amat berat, sedangkan manusia harus menyadari tentang kekurangannya”.


Allah Mahabijaksana sehingga kepada manusia memberikan pedoman untuk pelaksanaan amanah tersebut, yaitu Al-Qur’an dan hadis Nabi. Allah SWT dan Rasulullah SAW menjelaskan bahwa manusia akan sukses, selamat dunia dan akhirat, tergantung sejauh mana telah menjadikan pedoman ini sebagai referensi hidupnya.


Tugas sebagai khalifah yang sedemikian berat itu harus dipersiapkan dalam pengaderannya. Kriteria SDM yang mampu bekerja dengan baik terisyaratkan di dalam Al-Qur’an. Antara lain, kompeten dan amanah, punya visi hidup yang benar (Al Qashas 28 : 26, Al Baqarah : 126-129, Ibrahim 14 : 39-41).


Seorang pemimpin harus ahli. Sebab, jika tidak memiliki keahlian, bakal terdapat kekeliruan dalam menjalankan amanah. Dalam hadis Nabi disebutkan, ”Jika pekerjaan diberikan kepada yang tidak ahlinya, akan terjadi kerusakan”. Namun, keahlian saja tidak cukup. Seorang pemimpin juga harus dapat dipercaya dan tidak menyia-nyiakan amanah. 


Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin sejagat umat manusia ternyata memiliki empat sifat yang amat terhormat: 


1. Shiddiq (benar), beliau mendapat garansi dari Allah untuk selalu pada posisi yang benar. Beliau ma’shum (terjaga dari salah). Apa pun yang beliau sabdakan adalah wahyu dari Allah yang Mahabenar (An Najm : 4). 


2. Tabligh (menyampaikan), beliau selalu menegakkan dan menyampaikan yang haq ataupun kebaikan kepada siapa pun dengan cara yang hikmah betapapun pahit rasanya.


3. Amanah (dapat dipercaya), antara lain faktor inilah yang membuat orang-orang kafir terpesona dengan Islam dan kemudian masuk Islam.

Related News