Enter your keyword

post

Rendah Hati Ciri Orang Berilmu

Rendah Hati Ciri Orang Berilmu

Oleh: KH Dr. Umar Jaeni, M.Pd.

Peristiwa Isra’ Mi’raj yang baru saja diperingati umat Islam sedunia memberikan kesan yang sangat mendalam. Merasuk dalam dhahir dan batin. Untuk bisa mengambil makna dari peristiwa itu, seseorang harus melibatkan potensi jiwa dan raga yang ada dalam dirinya secara menyeluruh.

Akal dan hati merupakan alat yang sangat tepat untuk menangkap informasi Isra’ Mi’raj, suatu peristiwa yang sangat istimewa itu. Keduanya merupakan sarana yang sangat andal yang dapat mencerna kabar peristiwa dahsyat yang tidak terikat oleh ruang dan waktu. Akal berupa pemikiran atas hasil mengolah apa yang dilihat, didengar, dan diamati sesuai pengetahuan yang diperoleh. Sementara hati mengutamakan kesadaran jiwa yang bertumpu pada keyakinan. Akal pikiran menghasilkan ilmu. Adapun keyakinan hati menghasilkan kebijaksanaan atau wisdom.

Perjalanan seorang hamba, manusia pilihan, yaitu Rasulullah SAW, yang melintasi geografi bumi ke alam raya angkasa dan berlanjut ke sidrotul muntaha dengan kecepatan melebihi supersonic ini dapat dicerna dan diterima oleh orang-orang yang berakal. Namun, akal saja belum cukup. Perlu disertai disertai hati. Sikap ketulusan yang senantiasa tunduk dan tawaduk kepada Allah pencipta alam semesta. Itulah ciri orang yang berilmu secara hakiki, yaitu makin bertambah ilmu makin bertambah ketaatan dan kerendahan hatinya.

Ilmu akan semakin berkembang dan iman semakin kuat bila senantiasa dilatih dan diasah. Al-Qur’an memberikan bimbingan, peluang dan tantangan bagi segenap umat manusia agar menggunakan akalnya untuk berfikir. Dianjurkan agar manusia merenungkan serta mempelajari susunan tata surya yang sangat besar itu. Di dalamnya menghimpun segala macam planet bintang yang bermiliar-miliar jumlahnya. Benda-benda angkasa itu disebut makro kosmos. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,” (QS Ali Imran: 190).

Sifat dari ilmu bahwa makin didalami suatu objek semakin terasa akan kekurangannya. Semakin luas tabir yang harus disingkap sehingga terdorong untuk terus menerus mendalaminya. Walau demikian, keluasan ilmu tidak ada habisnya. Betapa sangat terbatasnya ilmu manusia dibanding dengan kebesaran alam semesta beserta isinya.

Orang yang berilmu dan beriman hatinya seraya mengingat seruan Allah, “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS Luqman: 27).

Tidak akan cukup umur manusia mempelajarai satu bidang ilmu. Terlebih ilmu tentang kebesaran ciptaan Allah yang menyangkut tata surya bumi, bulan, matahari dan bintang-bintang gemerlapan. Belum lagi bermiliar-miliar galaksi di langit. Kalaupun saja diberi kesempatan hidup seribu tahun di dunia, ilmu Allah tidak akan ada habisnya.

Dengan keterbatasan itu, seluas apa pun ilmu manusia, tidak ada yang dapat disombongkan. Kecuali tergoda oleh bisikan setan. Setan memiliki kepiawaian menjerumuskan manusia dari berbagai sisi. Seseorang bisa sombong karena harta, keturunan, jabatan, pengaruh, kedudukan, ketampanan, kecantikan, kegagahan, dan bahkan bisa karena banyaknya ilmu yang dimiliki jika segala kelebihan yang ada pada dirinya digunakan tidak sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an.

Orang yang benar-benar berilmu senantiasa berpegang pada arahan Al-Qur’an yang termuat dalam surah Fathir. “Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama’’ (QS Fatir: 28). Ulama yaitu orang-orang yang mengetahui ilmu kebesaran dan kekuasaan Allah.

Dalam berperilaku, orang berilmu senantiasa mengutamakan ketaatan dan kepatuhan serta ketawadukan kepada Tuhannya. Dalam kehidupan sehari-hari, berperilaku lemah lembut terhadap sesama makhluk di muka bumi. Orang yang berilmu mengembangkan sifat-sifat malaikat sebagaimana dalam pesan Al-Qur’an. ”Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para Malaikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri” (QS An Nahl: 49-50).

Para alim atau orang yang berilmu senantiasa berharap hanya Allah yang akan mengangkat derajat kemuliaan hidupnya. ”Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha teliti apa yang kamu kerjakan” (QS Al Mujadalah: 11).

Semoga dengan tambahnya ilmu wawasan semakin luas, iman makin kuat dan ibadah makin semangat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.