Enter your keyword

post

Senang dan Malu

Senang dan Malu

Oleh: H. Mim Saiful Hadi, M.Pd.I.

Tahun lalu, betapa sedihnya kita semua, suasana pandemi masih mencekam menghantui hampir seluruh penduduk bumi. Rasa saling curiga dengan sesama terbentuk sedemikian masif, bahkan di sebagian tempat nyaris terjadi konflik sosial antarwarga. Dalam berbagai rilis berita, ribuan orang meninggal dan ratusan ribu orang positif terpapar.

Kita yang sehat juga merasa khawatir, masihkah diberi umur panjang hingga bertemu dengan Ramadhan tahun berikutnya. Kita benar-benar merasa penting memiliki harapan kepada Allah SWT akan ditambahkannya umur karena memang tidak seorang pun tahu ke alamat mana virus Covid-19 ditujukan.

Betapa senangnya saat ini, ternyata Allah SWT memanjangkan umur kita, doa yang kita sanjungkan siang malam, dikabulkan oleh Allah SWT, kesempatan menikmati indahnya Ramadhan kembali diberikan. Walaupun pandemi belum juga usai, tetapi suasana mencekam tidak lagi sebagaimana tahun sebelumnya.

Pertemuan dengan Ramadhan tahun ini benar-benar terasa menyenangkan, lebih dari tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun-tahun sebelumnya tak pernah merasakan khawatir seperti tahun ini, bahkan sebagian merasa biasa-biasa saja, tetapi pandemi ini benar-benar menjadi pelajaran sangat berharga dari Allah untuk semua manusia beriman. Betapa berharganya umur dan waktu yang diberikan Allah pada kita.

Mulai akhir Ramadhan tahun lalu, rasa rindu pada Ramadhan tahun berikutnya terasa sangat kuat terpendam, karena saat itu benar-benar tidak yakin masihkah kita mendapat kesempatan bertemu dengan bulan yang indah ini? Semua kita hanya pasrah dan bertawakkal atas nikmat umur dan sehat yang menjadi otoritas mutlak Allah SWT meskipun tidak meninggalkan beragam ikhtiar dilakukan.

Alhamdulillah segala pujian tersanjung kepada Allah SWT yang telah melimpahi kita nikmat hingga berjumpa dengan bulan Ramdhan yang mulia tahun ini.

Tetapi, di saat yang sama kita juga merasa malu, karena termasuk hamba yang dipilih untuk kembali bersuka cita dengan Ramdhan untuk yang kesekian kalinya, sepuluh, dua puluh, enam puluh atau lebih banyak dari itu, sementara iman dan takwa kita masih begini-begini saja.

Kerakusan kita masih terus merajalela, kesombongan semakin mengeras, kepedulian pada kehidupan semakin menipis, dan ketaatan pada hawa nafsu semakin kuat, padahal ibadah puasa dan ibadah lain selama Ramadhan juga telah kita lakukan.

Allah SWT memandang kita pantas sebagi manusia pilihan untuk berjumpa Ramadhan. Karena itu, mari berkaca, seberapa pantaskah kita untuk benar-benar masuk dalam golongan tersebut. Apakah kita tidak malu jika kelak bertemu, lalu Allah SWT bertanya, “Dulu kamu sudah Saya pilih menjadi penyambut tamu agung-Ku Ramadhan, tetapi mengapa kamu justru meremehkannya?”

Jika perlakuan kita terhadap Ramadhan sama seperti tahun-tahun yang lalu, betapa malunya kita di hadapan Allah SWT kelak, sebagaimana malunya seorang duta negara yang dipilih oleh presiden. Ketika dirinya tampil di panggung, tetapi tidak memantaskan dirinya sedikitpun. Pakaiannya kotor dan lusuh, tutur kata dan ucapannya kasar menyakitkan, gerak tubuh dan sikapnya congkak dan tidak peduli, sorot mataya sayu tak bersemangat sehingga semua hadirin menertawakannya bahkan mengoloknya.

Para malaikat yang diutus Allah SWT turun ke langit dunia adalah penonton esktra super-VIP untuk menyaksikan setiap detail pertunjukan yang kita peresembahkan kepada Allah SWT. Trofi kemuliaan lebih baik dari seribu bulan yang mereka siapkan ternyata tidak pantas diberikan pada kita, lantas bagaimana kita dihadapan Allah SWT? Dan harapan apalagi yang layak kita mohonkan kepada Allah SWT untuk bulan Ramadhan tahun berikutnya?

Memantaskan diri untuk menjadi “tuan rumah” atas kedatangan tamu agung yang bernama Ramadhan sungguh merupakan ikhtiar bernilai tinggi. Tak terhitung oleh kalkulasi pahala yang telah dijanjikan pada amaliah ibadah yang lain, hanya Allah SWT saja yang secara langsung menentukan.

Maka, marilah “mati-matian” lahir batin, pada setiap detik di bulan yang sangat berkah ini, kita penuhi dengan suka cita amal ibadah kepada Allah SWT, baik dengan diri sendiri, orang tua, keluarga, maupun orang-orang di sekitar serta harta yang berada di tangan kita.

Allahumma a’innaa ‘alaa dzikrika wa syukrika wahusna ‘ibaadatik.

Leave a Reply

Your email address will not be published.