Enter your keyword

post

Tetap Bekerja tanpa Iddah

Tetap Bekerja tanpa Iddah

Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag.

Tanya:
Assalamualaikum wr wb.
Bapak Pengasuh yang terhormat, suami saya meninggal dunia dengan meninggalkan dua anak yang masih duduk di bangku SD dan SMP. Sebagian besar kebutuhan keluarga bertumpu pada almarhum sebagai karyawan pabrik. Saya juga bekerja sebagai pramuniaga di supermarket untuk menutupi kebutuhan keluarga.

Orang tua melarang saya bekerja sampai habis masa iddah. Tapi, saya menolaknya. Saya tetap kerja seperti biasa karena keluarga saya harus hidup dan pendidikan anak saya tidak boleh putus. Apakah orang seperti saya masih terkena aturan masa tunggu (iddah)? Mohon penjelasannya, terima kasih.

Nurul Karimah Hasibuan – Rungkut, Surabaya

Jawab:
Ibu Nurul yang terhormat, saya ikut berduka. Semoga almarhum suami Anda diampuni semua dosa-dosanya dan dilipatgandakan pahala kebaikannya. Saya juga salut pada Anda yang tetap tegar, bahkan bangkit, demi masa depan anak-anak tanpa bergantung kepada siapa pun.

Untuk menjawab pertanyaan Anda, saya kutipkan beberapa pendapat ulama. Para ulama sepakat bahwa siapa pun wanita yang cerai atau ditinggal mati suami, ia wajib menjalani masa iddah, yaitu larangan keluar rumah, berhias diri, dan menggunakan wewangian dalam jangka waktu tertentu. Jadi, tidak ada janda tanpa iddah siapa pun dia.

Tapi, para ulama berbeda pendapat tentang alasan diperbolehkan wanita iddah keluar rumah. Menurut Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hanbal, ia boleh keluar rumah jika ada keperluan, tapi khusus siang hari. Imam Syafi’i melarang keluar rumah secara mutlak jika talak raj’i, yaitu talak pertama dan kedua siang dan malam (QS Al Talaq ayat 1). Sebab, pada talak jenis ini, tanggung jawab ekonomi keluarga masih di pundak mantan suami. Tapi jika talak ba-in (talak ketiga), ia boleh keluar rumah khusus siang hari. Imam Hanafi juga memperbolehkan wanita cerai wafat untuk keluar rumah di siang hari.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, juga pertimbangan kelangsungan hidup keluarga, menurut saya, Anda boleh tetap bekerja seperti biasa. Tapi, upayakan meminta izin pimpinan agar selama masa iddah Anda kerja sif siang hari. Tapi, jika pimpinan tidak mengizinkan, Anda tetap diperbolehkan kerja siang malam seperti biasa. Sebab, salah satu misi utama Islam adalah menjaga kelangsungan nyawa orang.

Silakan tetap bekerja demi kelangsungan hidup dan pendidikan keluarga, tapi harus menjaga diri dari larangan-larangan iddah lainnya. Wallahu a’lamu bis shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published.