Enter your keyword

post

Tolong-menolong dalam Al-Qur’an

Tolong-menolong dalam Al-Qur’an

Oleh:Drs. KH Ali Muaffa, M.Ag.

Kata tolong-menolong di dalam Al-Qur’an dikenal dengan istilah taawun. Kata tersebut memiliki arti saling menolong. Gaya bahasa ini mengandung banyak arti. Di antaranya memiliki semangat bahwa seseorang siap menolong dan siap ditolong. Ada kebersamaan dan ada hubungan emosional yang tinggi untuk saling berbuat menolong terhadap sesama. Al-Qur’an mengajarkan agar kita berbuat demikian.

Tolong-menolong (taawun) memiliki dampak positif yang luar biasa. Al-Qur’an mengajarkan taawun agar kita berbuat positif sehingga memberikan manfaat secara luas kepada masyarakat. Rasulullah SAW menerangkan bahwa kehidupan seorang muslim haruslah membina taawun ini secara maksimal. Beliau memerinci keterangannya bahwa seorang muslim yang satu dengan yang lain di dalam kerukunan kasih sayangnya laksana suatu tubuh. Yakni, anggota tubuh yang satu dan yang lain saling menopang. Jika ada salah satu anggota tubuh merasa sakit, yang lain pun turut merasakannya. Satu dengan yang lain saling mendukung. Demikian indahnya kebersamaan dan taawun antarumat Islam.

Taawun Kunci Keberhasilan Dakwah
Dakwah adalah merupakan langkah mengajak seseorang untuk berubah ke arah yang baik lebih baik dan paling baik dari keadaan seseorang sebelumnya. Jika seseorang belum beriman kepada Allah, maka diarahkan dan dibimbing untuk beriman kepada Allah. Jika seseorang sudah beriman kepada Allah, kita bimbing untuk beramal soleh yang maksimal. Jika sudah maksimal, kita bimbing berdakwah melalui bidang masing-masing. Demikian seterusnya. Seseorang yang didakwahi telah lama memiliki kondisi, adat istiadat, kultur, dan kebiasaan asal dan perlu ditingkatkan (diubah) ke arah yang lebih baik. Perubahan inilah yang memerlukan potensi energi serta biaya besar dan waktu panjang.

Berikut ini salah satu ilustrasi dari sekian kisah yang dialami dai kita di pelosok Maluku Utara. ”Saya dilepas oleh guru saya dengan kalimat bismillahirrahmanirrahim. Taka da bekal barang apa pun dan uang satu rupiah pun. Beliau melepas saya untuk berdakwah mengajarkan Al-Qur’an di pelosok ini yang amat jauh,” ujar salah seorang guru Al-Qur’an yang sedang meyakinkan untuk bisa bersinergi dengan Nurul Falah.

Ia berkisah, selama dua bulan pertama sejak tinggal di pelosok itu, setiap hari dia hanya makan ikan, sayur, dan buah. Tiga makanan tersebut dia peroleh dengan gratis tanpa membeli karena telah tersedia di alam bebas. Di sela-sela aktivitas dakwahnya, ikan, sayur, dan buah dia cari di kebun dan pantai di daerah tempatnya bertugas mendakwahkan Al-Qur’an. Di sela-sela dakwahnya, di malam hari dia memancing ikan. Kemudian di sela dakwahnya pada pagi hari dia mencari sayur dan buah di kebun. Semula hanya makan sayur dan buah yang sudah akrab dengan selera perutnya. Namun, belakangan sayur yang tidak bersahabat dengan perutnya pun harus dia lahap karena adanya cuma itu.

”Alhamdulillah, ma’unah Allah menyertai saya dan perut saya tidak mengalami kesulitan menerima makanan yang ada,” tuturnya. Kehadiran dai tersebut bukan tidak ada masalah. Sasaran utama dakwahnya adalah anak-anak usia SD. Kehidupan mereka tidak seperti di kota. Mereka setiap harinya hanya bermain di kebun, halaman rumah, maupun pantai. Mereka seakan anak tak bertuan (seakan tidak memiliki orang tua). Sekolah merupakan hal yang seakan tidak menjadi kebutuhan.

Alhamdulillah, kegigihan dai kita ini pada akhirnya membuahkan perubahan. Mereka mulai bersedia berkumpul di musala untuk belajar agama Islam. Ini dimulai dengan kegiatan pembelajaran Al-Qur’an. Guru tersebut berhasil mengumpulkan ratusan anak usia SD untuk belajar Al-Qur’an dengan modal semangat pengalaman metode tilawati yang diperoleh di Surabaya.

”Alhamdulillah, Allah menolong saya dan metode tilawati merupakan cara mengajarkan Al-Qur’an yang dirasakan oleh anak-anak sangat mudah dan menyenangkan,” jelasnya. Namun, ia menemukan problem baru, yaitu pengadaan sarana buku. Sambil ingin menghirup udara segar di Jawa, dia pergi ke Surabaya hanya untuk mengkisahkan cerita hidupnya di pelosok tersebut dan memperoleh buku serta alat peraga tilawati. Ketika kami ditanya mengapa tidak mengontak Nurul Falah saja agar buku bisa dikirimkan melalui jasa ekspedisi, ia menjawab, ”Kalau buku dirikim via ekspedisi, bisa-bisa setahun baru datang. Itu pun kalau sampai karena tempat kami jauuh di pelosok.”

Kisah semacam ini boleh jadi sangat banyak. Andai tidak memiliki jiwa perjuangan yang kuat, pasti guru tersebut telah lari meninggalkan ladang dakwah itu. Di sinilah pentingnya ajaran taawun dilakukan oleh umat Islam. Akhirnya, dari uluran simpatisan dan kerja sama taawun para donatur, secara bertahap persoalan guru tersebut teratasi. Keadaan seperti ini mungkin masih ada yang lebih parah terjadi di daerah dan pelosok lain.

Taawun merupakan alat dan strategi perjuangan. Al-Qur’an mengajarkan kepada kita bahwa kondisi semacam ini dapat diatasi dengan kebersamaan dalam taawun atau tolong-menolong. Allah SWT menyerukan dalam surat Al Maidah ayat 3: ”Hendaklah kalian bertolong-menolong dalam hal kebaikan dan jangan bertaawun dalam hal kejelekan dan kemaksiatan.”

Dari kejadian di atas, banyak sekali komponen yang harus kita bantu untuk mengatasi masalahnya dari berbagai aspek, di antaranya:

  1. Aspek pembinaan guru/dai yang terkait dengan kompetensi keAl-Qur’anan dan keguruan. Bagaimanapun kondisi sosial di daerah dan pelosok tersebut memiliki karakteristik yang berbeda dengan keadaan dan pengalaman dai. Hal ini memerlukan keterampilan dan pendekatan psikologis yang berbeda pula.
  2. Aspek komitmen secara terus-menerus harus diasah agar semangat dai terus terjaga seiring tantangan yang ada di dunia anak-anak serta kesadaran mereka yang fluktuatif. Terkadang mereka tertantang untuk belajar Al-Qur’an, namun juga tidak jarang mereka tidak bersemangat belajar dan kondisi murung.
  3. Aspek kebutuhan sarana belajar mengajar, pengadaan media, dan alat belajar juga sangat menentukan. Sebab, media inilah yang menghadirkan gairah belajar. Jauh dan perlu waktu, inilah salah satu masalahnya.
  4. Aspek manajerialnya. Kita sadar bahwa sekecil dan sebesar apa pun persoalan dakwah yang dihadapi, hal ini amat memerlukan kemampuan manajerial seorang dai. Sebab, sebaik apa pun misi dakwah, jika tidak dikelola dengan baik, akan mudah terkalahkan kejahatan dan kemaksiatan yang terkelola dengan baik.

Empat aspek (dan masih banyak lagi) tersebut memerlukan uluran bantuan kita semua, baik pemikiran maupun pendanaan. Bersyukur dan berharap donatur Nurul Falah semoga terus meningkat dan berkiprah menyalurkan donasinya untuk menolong mereka di pelosok tersebut dan banyak tempat lainnya. Sebab, bicara pendidikan Al-Qur’an, sesungguhnya masih sangat termarginalkan dan perlu bantuan kita semua. Bantuan kita tidak boleh lagi sekadar membantu, namun semua harus terdesain dengan baik. Kita susun problem state-nya. Kita temukan akar masalahnya. Kita cari solusinya dan kita jadwal program implementasinya.

Allah mengingatkan kepada kita bahwa ”Orang-orang munafik sangat solid. Kehidupan mereka di antara satu dan yang lain menjadi satu bagian dan saling menolong. Jika kalian tidak melakukan hal yang serupa, maka bakal terjadi fitnah dan kerusakan yang besar di muka bumi”.

Semoga bersama Nurul Falah, terus kita tebar Al-Qur’an mencapai keridaan Allah di Indonesia yang rahmatan lil ‘alamin. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published.