Enter your keyword

post

Walau Satu Ayat

Walau Satu Ayat

Oleh: Ustaz Mim Saiful Hadi

Akhir-akhir ini beberapa kali saya menonton sebuah channel musik yang menampilkan seorang gitaris fingerstyle dengan nama akun Alip_Ba Ta. Jumlah subscriber-nya sangat menakjubkan, lima juta orang dengan sukarela mencatatkan diri sebagai pengikutnya.

Para pengikut Alip_Ba Ta berasal dari seluruh dunia, dari Asia, Eropa, Amerika, bahkan Afrika. Banyak pula berbagai kalangan, baik yang asli musikus, produser musik, pengamat musik, maupun orang awam yang tidak paham musik seperti saya.

Dari sosoknya, tampak dia orang biasa, bekerja kasar bidang angkutan yang jauh dari urusan musik. Tempat syutingnya bukan di studio yang ditata menarik, tetapi di pojok bilik rumah yang sangat sederhana. Cat rumahnya mulai kusam, tanpa sedikit pun dekorasi yang mendukung penampilannya.

Begitu pula pakaiannya, benar-benar apa adanya, mulai dari celana, kaos, hingga topi yang dikenakannya tampak sekali barang murah. Semuanya jauh dari outfit yang glamor atau produk merek terkenal seperti yang dipakai para artis yang nge-vlog atau para youtuber yang sering lebay dan latah. Dia sama sekali tidak mengenakan aksesori atau riasan apa pun untuk membuat orang tertarik dan menyukai unggahannya.

Hal lain yang menarik adalah keterampilan memainkan dawai gitar. Menurut para reaktornya, keterampilan Alip_Ba Ta telah mencapai level tertinggi, belum tertandingi oleh pemain gitar lain di dunia. Selain keterampilan, kerpibadiannya juga menjadi daya tarik luar biasa, yaitu sikap rendah hati, polos, dan ikhlas. Ia tidak seperti kebanyakan youtuber yang setiap unggahannya selalu meminta penontonnya untuk menjadi pengikutnya.

Ia sama sekali tidak melakukan hal semacam itu. Satu kata pun tidak keluar dari mulutnya. Satu huruf pun tidak muncul pada tayangannya bahwa penontonnya diminta mem-follow atau men-subsribe channel-nya.

Ia hanya memainkan gitarnya, memetik dan menggesek dawai gitarnya atau memukul dan mengetuk badan gitarnya dengan tehnik yang mengagumkan, lalu mengunggahnya begitu saja. Sikapnya sangat jelas hanya ingin menghibur dan semua orang silakan menikmati. Ia tidak peduli berapa penontonnya, bagaimana komentarnya. Bahkan, ia pun menonaktifkan link iklannya.

Alip_Ba Ta dengan gitarnya ternyata bukan “hanya” memainkan gitar untuk menghibur, tetapi menyampaikan pesan atau dakwah dalam istilah saya. Perintah Allah untuk menyampaikan dakwah walaupun satu ayat “Ballighuu ‘annii walau aayat…” (sampaikan ajaran-Ku walau hanya satu ayat…) efektif sedang dia lakukan. Dakwahnya berhasil melintasi benua. Pesannya telah sampai pada berbagai lapisan masyarakat, tidak terbatasi oleh tingkat pendidikan, status sosial, suku bangsa dan keyakinan.

Semua penggemarnya yang lima juta lebih menerima dengan jelas pesan yang disampikan oleh Alip_Ba Ta bahwa untuk menjadi tenar tidak harus mencampakkan kehormatan dan harga diri, dengan meminta-minta atau merayu-rayu. Menyadarkan kepada semua orang bahwa meraih simpati dari orang banyak tidak perlu memanipulasi, sekadar pencitraan atau melakukan kamuflase jati dirinya, menerima dengan ikhlas setiap takdir yang telah Allah berikan pada setiap pribadi.

Pesan yang juga mahal diperoleh adalah untuk memperoleh banyak, cukup dengan membiarkan banyak orang mengambil manfaat dari kita. Dalam hal ini, Bang Alif, demikian para penggemarnya biasa memanggilnya, membiarkan begitu saja semua karya yang diunggahnya di-upload kembali lengkap dengan komentar para reaktornya. Ia tidak meminta kompensasi apa pun meskipun mereka yang meng-upload videonya mendapat keuntungan materi yang tidak sedikit.

Yang paling mahal dari pesan yang dia sampaikan kepada orang di seluruh dunia adalah pengenalan huruf hijaiyah kepada seluruh penduduk bumi, meski baru tiga huruf di awal. Banyak orang yang penasaran tentang nama tersebut, mereka menggunakan mesin pencari di internet untuk belajar dapat mengucapkan nama tersebut dengan benar, betapa banyak kemanfaatan ilmu yang disebarkan oleh Alip_Ba Ta. Sungguh amalan kecil yang berpahala besar.

Maka, bagi kita semua, berbuat baiklah sekarang meskipun kecil. Berdakwahlah sekarang meskipun hanya satu huruf. Menunggu menjadi orang baik untuk mengajak orang berbuat baik atau menyampaikan dakwah menunggu hafal Al-Qur’an 30 juz tentu bukan ajaran yang kita anut. Nashrun minallah wa fathun qariib…. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published.