Enter your keyword

post

Yang Berhak Menerima Zakat Fitrah

Yang Berhak Menerima Zakat Fitrah

Oleh: Prof. Dr. H. Ahmad Zahro, M.A.

Tanya:
Assalamualaikum wr wb.

Ustaz, setiap bulan puasa setiap muslim diwajibkan membayar zakat fitrah atau zakat mal. Untuk yang paling tepat, siapa yang wajib saya beri zakat fitrah tersebut? Atas jawabannya, saya ucapkan terima kasih. Wassalam.

Luluk Fitri Muhammad, Surabaya

Jawab:

Terima kasih Mbak Luluk, pertanyaan yang bagus sekali. Banyak yang mengalami kesulitan dalam membayar zakat fitrah atau zakat mal. Kepada siapa zakat fitrah atau zakat mal itu harus dibayarkan?

Dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 60 dijelaskan siapa saja yang berhak menerima jakat itu, yaitu orang-orang fakir, orang miskin, para pengurus zakat, orang-orang yang lemah hatinya, budak yang ingin merdeka karena Allah SWT, orang-orang yang berutang di jalan Allah, dan orang-orang yang berada dalam perjalanan.

Dalam kitab Minhajul Muslim karya Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri dijelaskan seorang muslim boleh menyerahkan zakatnya kepada salah satu kelompok yang berhak menerima zakat, tetapi harus memperhatikan yang paling membutuhkan. Hendaknya dia mengutamakan yang paling membutuhkan dan kebutuhannya banyak.

Seorang muslim tidak boleh memberikan zakatnya kepada orang-orang yang wajib dinafkahinya. Misalnya, orang tuanya, istri, dan anak-anaknya. Sebab, ia wajib memberikan nafkah ketika ia membutuhkan nafkahnya.

Zakat tidak boleh diberikan kepada keluarga Nabi SAW. Yaitu, Bani Hasyim, keluarga Ali bin Abi Tholib, keluarga Ja’far, keluarga Aqil, dan keluarga Al-Abbas.

Seorang muslim boleh membayar zakat kepada pemimpin yang muslim walaupun dia seorang yang zalim. Dengan zakat itu, maka kewajibannya telah gugur.

Zakat tidak boleh dipindah dari satu negeri ke negeri yang lain, yang jaraknya sejauh perjalanan yang diperbolehkan melakukan salat Qasar atau lebih. Para ulama membolehkan memindahkan ke negeri lain yang banyak orang miskin atau di negeri asalnya tidak ada orang miskin, yang dilakukan oleh imam atau lainnya.

Orang yang mempunyai piutang pada orang lain, kalau piutang tersebut sebagai zakatnya, hal itu diperbolehkan. Kalau dilihat dari segi bahwa kalau ia menagihnya dari fakir tersebut, maka itu akan membebaninya dan zakat itu dapat memenuhi kebutuhannya. Tetapi, jika ia putus asa bahwa orang fakir itu tidak melunasi utang atau ia memberikan zakatnya kepad orang fakir tersebut supaya ia mengembalikannya kepadanya, maka hal itu tidak boleh.

Zakat tidak akan mendapatkan pahala kecuali dengan niatnya. Jika ia mengeluatkan zakat dengan tidak disertai niat mengeluarkan zakat yang wajib, maka ia tidak akan mendapatkan pahala.

Mudah-mudahan jawabannya memuaskan dan kita semua bila melaksanakan membayar zakat fitrah atau zakat mal dengan niat karena Allah SWT.

Leave a Reply

Your email address will not be published.